tak bertajuk, tak apa kan…

indah KABAR dari WARTA

Psikologi Pantang Larang

Tengku MO

Semasa saya kanak-kanak hingga belia, banyak pantang larang yang mesti diturut, waktu itu saya tak tahu alasan masuk akal dari pantang larang itu. Sebagai anak yang ingin tetap dianggap patuh, tentu saja pantang larang itu saya diikuti saja.

Disetiap etnis dan daerah di negeri ini, tentu saja mempunyai pantangan-pantangan tertentu juga. Pamali kata Orang Sunda. Jika diamati, ternyata pantang larangan bukanlah hal yg mengada ada, tapi sesuatu yang berkaitan dengan identitas sosial.

Peter Weinreich (1985) menyebutkan bahwa identitas sosial, termasuk identitas etnik merupakan penggabungan ide-ide, perilaku, sikap, dan simbol-simbol bahasa yang ditransfer dari generasi ke generasi melalui sosialisasi. Jadi, identitas etnis seseorang tidak berhenti ketika orang ditasbihkan sebagai anggota etnis tertentu melalui bukti ‘darah’.

Secara psikologis, kalimat larangan semisal ‘jangan’, tak boleh’ atau ‘dilarang’, mengandung rasa ingin tahu. Anak-anak maupun orang dewasa memiliki kecenderungan yang sama, jika dilarang lantas bertanya ‘kenapa tak boleh’, maka reaksi selanjutnya adalah melakukan apa-apa yang dipantangkan itu untuk mengetahui sebab apa sesuatu itu dilarang.

‘Pantang duduk di bantal’, maka akan muncul pertanyaan ‘kenapa pantang duduk di bantal’. Karenanya muncullah pola pantang larang yang berupa Reverse Psychology ( psikologi terbalik) sesuai zaman pantang larang itu dikeluarkan.

Reverse psychology sangat sederhana,sesederhana pengertiannya sebagai psikologi kebalikan. Dia adalah seni manipulasi untuk kepentingan orang yang menggunakannya. Dia bisa merupakan psikologi kata-kata maupun tindakan. ‘Pantang duduk di bantal’ dengan reverse psychology-nya ‘Nanti pantat berbisul’.

Demikian indah dan santun nenek moyang merangkai tabu dengan pendekatan identitas sosial dan psikologis.*(TM Muhar Omtatok)

April 18, 2015 Posted by | Kata Omtatok | 1 Komentar

KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL Prof. Dr. Tengku YUSRIL IHZA MAHENDRA (Bagian I)

Gambar

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Syahdan menurut ibu saya, saya dilahirkan pada hari Selasa, tanggal 5 Pebruari 1956 di Kampung Lalang, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur. Tanggal kelahiran itu pasti, bukan rekaan, karena saya melihat buku harian ayah saya, yang mencatat dengan teliti berbagai peristiwa penting dalam keluarga dan kehidupannya. Saya dilahirkan di rumah kakek saya dari pihak ibu dalam sebuah kamar, yang dapat saya saksikan sampai tahun yang lalu, sebelum rumah tua terbuat dari kayu itu dirubuhkan karena sudah dimakan rayap. Ibu saya sebenarnya ingin melahirkan saya di rumah sakit. Namun ambulan yang dipanggil, rupanya sedang menjemput orang lain yang juga ingin melahirkan. Saya sudah lahir lebih dahulu, ketika ambulan tiba ke rumah. Hanya kakek dan nenek saya yang membantu ibu saya melahirkan. Setelah itu barulah bidan dan jururawat datang ke rumah dan membantu, ketika bayi sudah dimandikan dan diberi baju .

Saya lahir sebagai anak yang ke enam.Sesudah saya masih ada lima lagi anak-anak yang lahir dari orang tua saya. Seluruhnya ada sebelas orang. Dengan posisi anak keenam, saya berada di urutan tengah. Punya lima kakak dan punya lima adik. Keluarga kami hidup dengan sederhana dan bersahaja. Rumah keluarga kami, terbuat dari kayu menggunakan dinding dari kulit kayu pula. Atapnya sebagian terbuat dari sirap kayu bulian, dan sebagiannya lagi terbuat dari daun nipah. Rumah itu terletak di belakang pekarangan rumah kakek saya dari pihak ibu. Saya tidak dapat lagi mengingat rumah itu. Namun foto rumah itu masih ada. Tidak lama sesudah saya lahir, keluarga kami pindah ke rumah yang dibuat oleh ayah saya sendiri. Rumah itu terletak di Kampung Sekip. Rumah inipun terbuat dari kayu, berdinding kulit kayu juga, dan beratapkan daun nipah. Foto rumah inipun masih ada, yang dibuat ayah saya di tahun 1958. Ayah saya banyak menyimpan foto-foto lama berwarna hitam puith yang sampai sekarang masih disimpan ibu saya dengan baik. Ketika usia saya dua tahun, keluarga kami pindah ke Tanjung Pandan. Ayah saya, yang semula menjadi penghulu mengurus hal-ikhwal perkawinan, rupanya diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama di kota itu.

Saya mulai ingat sedikit-sedikit ketika kami tinggal di Tanjung Pandan. Ayah saya menyewa sebuah rumah, yang juga terbuat dari kayu, di Kampung Parit, Tanjung Pandan. Rumah itu tidak ada penerangan listriknya, sehingga saya melihat kakak-kakak saya belajar dengan penerangan lampu minyak tanah. Saya masih ingat, peralatan rumah itu hanya ala kadarnya. Hanya ada empat kursi terbuat dari rotan, sebuah tempat tidur dan peralatan dapur yang sangat sederhana. Saya dan kakak-kakak saya tidur di lantai menggunakan tikar yang terbuat dari daun pandan. Kendaraan satu-satunya yang dimiliki keluarga kami, hanyalah sebuah sepeda, yang selalu digunakan ayah saya untuk pergi bekerja, ke pasar atau mengajar di sebuah madrasah, dan pergi berdakwah di berbagai mesjid dan musholla di kota itu. Saya sering dibonceng ayah saya pergi berdakwah dan saya bermain-main di mesjid dengan anak-anak yang lain.

Saya masih ingat juga, suatu ketika ayah saya mengajar agama kepada narapidana di Penjara Tanjung Pandan. Saya ikut masuk ke dalam penjara, dan menyaksikan orang-orang berada dalam jeruji besi. Waktu kecil itu saya tidak mengerti apa yang terjadi. Saya bertanya kepada ayah saya mengapa orang itu dikurung. Ayah bilang, mereka dihukum karena melakukan kejahatan. Ayah saya juga mengajar agama kepada polisi. Saya masih ingat kepala polisi di sana, namanya Abdullah Paloh. Beliau itu orang tua dari Pak Brewok, Surya Paloh, yang belakangan hari tersohor namanya sebagai raja dunia media massa. Kepala polisi yang lain, namanya Mohammad Said, yang begitu dekat persahabatannya dengan ayah saya.Kira-kira sepuluh tahun yang lalu, saya bertemu dengan Pak Said di Tanjung Karang, Lampung. Beliau sangat senang dan bahagia, dan bercerita banyak tentang persahabatannya dengan ayah saya di masa lalu.

Saya masih ingat juga, yang menjadi bupati di Belitung waktu itu ialah Zainal Abidin Pagar Alam, yang kemudian menjadi Gubernur Lampung. Anaknya saya kenal namanya Syahruddin Pagar Alam, yang sekarang menjadi Gubernur Lampung sepeti ayahnya dahulu. Saya masih ingat, Zainal Abidin Pagar Alam itu tokoh PNI. Ayah saya aktivis Masyumi. Namun kedua orang itu bersahabat dan sering bertukar-pikiran. Saya sering mendengarkan ayah saya berbicara dengan tokoh-tokoh itu. Karena masih kecil, tentu saya tidak mengerti. Sekarang saya tidak ingat lagi apa yang mereka bicarakan.Tetapi saya masih ingat orang-orang itu.

Saya juga masih ingat dengan Pak Djarot, ayah Eros dan Slamet Rahardjo. Mereka tinggal berdekatan dengan rumah kami. Pak Djarot waktu itu menjadi komandan Pangkalan Udara Tanjung Pandan. Saya sering bermain-main di halaman rumah Pak Djarot yang ukurannya besar dan terbuat dari beton. Rumah itu nampaknya peninggalan zaman Belanda. Saya masih ingat Slamet Rahardjo pakai baju Pramuka – waktu itu disebut Pandu — dan terlihat gagah. Dia sering naik sepeda dengan teman-temannya. Di belakang hari Eros menjadi terkenal sebagai musisi dan sutradara film. Slamet juga menjadi aktor besar dalam perfileman Indonesia. Kalau pagi hari saya melihat mereka pegi sekolah naik jeep Angkatan Udara. Mungkin jeep itu buatan Rusia, saya ingat warnanya biru. Waktu itu saya belum sekolah. Kakak-kakak saya pergi sekolah berjalan kaki. Kalau pagi mereka sekolah di Sekolah Rakyat (atau sekolah dasar sekarang). Kalau sore mereka sekolah lagi di madrasah. Ibu saya menyebut madrasah itu Sekolah Arab.

Tidak jauh di depan rumah kami itu ada keluarga Pak Sulaiman Talib. Beliau sebenarnya berasal dari Manggar juga, namun nampaknya sudah lama menetap di Tanjung Pandan. Keluarga kami sangat akrab dengan keluarga beliau, sehingga sudah seperti keluarga sendiri. Di dekat rumah Pak Sulaiman Talib itu, di pertigaan jalan, hampir berdekatan dengan rumah Pak Djarot, tinggal keluarga Pak Ahmad. Beliau itu memiliki bengkel reparasi radio di rumahnya. Zaman itu belum ada televisi. Orang yang memiliki kulkas pun sangat jarang. Di rumah beliau itu ada peralatan bermain musik. Anak-anaknya pandai bermain gitar dan sering bertlatih musik di rumahnya. Saya selalu bermain-main di rumah itu dan melihat banyak sekali radio rusak yang sedang diperbaiki. Ayah saya tidak punya radio. Di zaman itu radio adalah barang mewah yang tak semua orang sanggup membelinya. Jadi kami mendengar radio di rumah Pak Ahmad. Saya juga senang menonton mereka latihan musik. Saya mencoba mengingat nama anak-anak Pak Ahmad, tetapi hanya satu yang saya ingat, panggilannya Yar. Sampai sekarang saya tidak pernah bertemu lagi dengan mereka.

Walaupun keluarga kami hidup miskin dan bersahaja, saya merasakan orang tua kami begitu sayang kepada anak-anaknya. Mereka tidak pernah mampu membelikan mainan seperti anak-anak zaman sekarang. Jangankan untuk membeli mainan, untuk makan saja sudah sangat susah. Gaji ayah saya sebagai pegawai negeri sangat kecil. Kami makan dengan lauk-pauk seadanya. Yang penting kata ibu saya, ada beras di rumah. Membeli gula pasir saja, orang tua saya tidak mampu. Saya sering melihat ayah saya minum kopi dengan gula aren yang murah harganya. Dalam keadaan miskin seperti itu, saya dan kakak-kakak saya bermain apa adanya. Karena kakak di atas saya perempuan, maka saya sering main masak-masakan menggunakan kulit timung. Kulit timung itu diletakkan di atas tungku yang apinya kami nyalakan dari kayu. Yang dimasak hanya tanah dan daun-daunan. Saya juga membuat kuda-kudaan dari pelepah pisang, atau membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk bali. Mobil-mobilan itu ditarik ke sana kemari menggunakan tali terbuat dari daun purun atau pelepah pisang.

Rumah sewaan ayah saya di Kampung Parit itu sering tergenang air kalau musim hujan tiba. Di belakang rumah memang ada sungai, tempat ibu saya mencuci pakaian. Saya dan kakak-kakak saya sering mandi di sungai itu. Kadang-kadang kami memancing atau menyerok ikan. Genangan air kadang-kadang sampai ke jalan raya, sehingga jalan yang menghubungkan Kampung Parit dengan Kampung Amau di sebelahnya terputus. Namun kalau air meluap, saya dan kakak-kakak justru saya merasa senang. Kami dapat bermain rakit yang terbuat dari kayu atau pohon pisang dengan teman-teman tetangga. Anak-anak di sekitar rumah saya itu terdiri dari berbagai suku. Di samping orang Belitung, ada juga suku Bugis, Bawean, Madura, Palembang, Jawa dan Batak. Ada juga anak-anak keturunan Cina yang menjadi tetangga kami.

Suatu ketika, tatkala air mulai surut dan tanah terkena erosi, saya sedang bermain dengan kakak perempuan saya. Kami melihat ada bekas pecahan-pecahan keramik di permukaan tanah. Saya mendapat sebuah mangkok Cina yang masih utuh bentuknya. Mangkok itu saya bawa pulang. Ibu saya menggunakan mangkok itu sebagai tempat sabun untuk mencucui piring. Saya sangat senang dengan mangkok itu. Suatu ketika ketika saya sudah menjadi Menteri, saya bertanya kepada ibu saya tentang mangkok yang saya dapatkan ketika saya masih kecil. Ibu saya bilang, mangkok itu masih ada. Saya membawa mangkok itu ke Jakarta dan menyimpannya di antara koleksi keramik yang saya miliki. Mangkok itu saya tandai sebagai koleksi keramik pertama yang saya miliki. Setelah usia saya agak tua, saya mulai studi tentang keramik dan mengkoleksi keramik dari berbagai tempat. Saya baru mengerti keramik yang saya dapat di masa kecil itu berasal dari Dinasti Ching, di buat pada abad ke 18. Ketika keramik itu saya dapatkan, usia saya baru sekitar empat tahun.

Tidak jauh dari rumah sewaan ayah saya di Kampung Parit itu, ada sebuah surau yang terletak dekat jembatan di tepi jalan. Setiap magrib, ayah saya selalu sembahyang di surau itu. Semua anak-anak ikut sembahyang sambil bermain dengan teman-teman. Kadang-kadang saya menyaksikan kakak saya yang paling tua, namanya Yuslim, melantunkan azan magrib di surau itu setelah beduk magrib ditabuh. Ayah saya selalu menjadi imam. Saya tidak dapat lagi mengingat nama teman-teman sebaya saya bermain di surau itu. Saya hanya mengingat tiga nama yang usianya lebih tua dari usia saya. Pertama Sulaiman, dia sebenarnya masih keluarga dari pihak ibu saya. Kedua Said, dia anak Pak Sulaiman Talib, tetangga dan sahabat baik ayah saya. Ketiga namanya Jusuf, dia anak orang India Muslim. Saya masih bertemu dengan ketiga orang ini sampai jauh di kemudian hari. Suatu ketika saya bertemu Jusuf, sedang berjualan bahan pakaian di sebuah kios di pasar Tanjung Pandan.

Karena keluarga kami miskin dan bersahaja, ayah saya tak pernah sanggup mengajak anak-anaknya pergi berjalan-jalan ke tempat hiburan. Dua hal yang masih saya ingat dengan jelas ketika berusia empat tahun, ialah ayah saya mengajak kami sekeluarga naik perahu pergi ke sebuah tempat, namanya Juru Seberang. Di tempat itu ada Penghulu Asir, seorang keturunan suku Laut yang telah memeluk agama Islam dan menjadi penghulu agama. Saya ingat anak Penghulu Asir yang bernama Salam. Dia cekatan mendayung perahu dari Pelabuhan Tanjung Pandan ke Juru Seberang. Sampai hari ini, saya tidak pernah bertemu lagi dengan Salam, entah dia masih hidup atau sudah wafat. Di Juru Seberang, kami nginap semalam. Ayah saya memberikan pengajian agama di sebuah mesjid di kampung itu. Kami bermain-main di halaman mesjid. Banyak sekali anak-anak datang bermain, sementara orang tua mereka mendengarkan ceramah ayah saya.

Hal kedua yang saya ingat ialah, saya ikut ayah saya menyaksikan perayaan “Hantu Besar” di sebuah kelenteng Cina di Pasar Tanjung Pandan. Dalam bahasa Cina hantu besar itu disebut Thai Si A. Saya tidak tahu persis riwayat perayaan ini. Apa yang saya lihat ialah ada makhluk besar dibuat seperti hantu. Kerangkanya dibuat dari bambu dan dibungkus kertas berwarna meraha. Kepalanya berwarna hitam agak menyeramkan dan diikat dengan sehelai kain merah pula. Siang hari aneka kesenian Cina seperti barongsai dipertunjukkan, dengan tabuhan genderang, terompet dan gong kecil yang memekakkan telinga. Kami menonton sampai malam, saat hantu besar dibakar. Sekelompok orang memperebutkan kain merah pengikat hantu besar, di tengah kobaran api. Saya bertanya kepada ayah saya untuk apa kain merah itu diperbutkan. Beliau bilang, ada kepercayaan bahwa kain merah itu membawa berkah. Tetapi ayah saya bilang, beliau tidak percaya.

Lebih dari dua hal yang saya ceritakan di atas, saya tidak ingat lagi ketika ayah saya mengajak saya menonton hiburan. Sekali dua kali, saya ikut kakak saya pergi menonton film kartun atau film “Gelora Indonesia”, yakni film penerangan Pemerintah, yang masih berwarna hitam-putih. Film itu diputar di bioskop PN Timah. Di sini orang nonton gratis saja. Ada bioskop kepunyaan Pak Rachman – ayah bintang film Jenny Rachman — di Tanjung Pandan. Tapi seingat saya, saya tidak pernah nonton di situ, maklum harus bayar. Sedang kami tak punya uang untuk membeli karcis. Kadang-kadang, saya ikut kakak saya pegi memancing ikan di jembatan Tanjung Kubu. Kadang-kadang kami dapat ikan baronang– orang Belitung menyebutnya ikan libam. Lumayan untuk makan sekeluarga. Jarak dari rumah kami ke Tanjung Kubu, kira-kira lima kilometer. Kami menempuhnya berjalan kaki, sambil membawa pancing. Seingat saya keluarga kami pernah sekali pergi ke Tanjung Kelayang, daerah tempat wisata yang sangat indah pemandangan lautnya. Waktu itu pengelola tempat itu adalah seorang wanita Belanda, namun suaminya orang Belitung, namanya Junus. Keluarga mereka cukup dekat dengan keluarga kami.

Satu hal yang tak dapat saya lupakan ketika tinggal di Kampung Parit, ialah kedatangan nenek saya dari Manggar, kota kelahiran saya. Jarak antara Manggar dan Tanjung Pandan, sekitar 90 kilometer. Kalau nenek datang, beliau selalu membawa pisang dan buah-buahan lainnya. Kami sungguh sukacita dengan buah-buahan itu. Nenek juga mengajak kami ke pasar dan membelikan kami baju baru. Satu hal yang tetap saya ingat sampai sekarang, ialah ketika nenek membawa dua ekor anak kucing untuk saya dan kakak saya yang perempuan. Anak kucing itu dibawa dalam karung terbuat dari daun lais. Saya sungguh suka cita dengan anak kucing itu. Kucing itu saya pelihara sampai besar. Sejak itu, saya sangat suka dengan kucing, sampai sekarang. Tapi sayangnya, ketika keluarga kami pindah rumah, kucing itu hilang. Saya sangat sedih setelah mencari kucing itu ke sana ke mari, namun tidak bertemu. Sejak itu saya mengerti kucing sebenarnya mencintai rumah. Ketika pindah rumah, kucing menjadi bingung, dan pergi meninggalkan rumah yang baru ditempati itu.

Seingat saya ada sekitar dua tahun kami tinggal di Kampung Parit itu. Keluarga kami kemudian pindah ke jalan Sijuk di Tanjung Pandan. Rumah yang kami tempati agak besar ukurannya. Terbuat dari kayu juga dan lantainya agak tinggi. Halamannya luas dan banyak pohon buah-buahan. Berbeda dengan rumah di Kampung Parit, rumah ini ada penerangan lsitriknya. Tetapi listriknya hanya nyala tiga kali seminggu, selebihnya padam karena bergiliran. Ayah saya pindah ke rumah ini karena tidak perlu membayar sewa. Rumah itu milik paman beliau, namanya Moestar. Anak Pak Moestar, namanya Ismail, menempati sebuah rumah terbuat dari beton di samping rumah yang kami tempati. Saya mulai banyak mengingat rumah itu, karena usia saya sudah lima tahun.

Karena rumah itu cukup besar, kami dapat tidur di kamar, walau tetap saja beralaskan tikar. Ada sebuah ruangan yang terletak di depan rumah, yang dijadikan musholla. Kami selalu sembahyang magrib berjamaah di ruangan itu. Ayah juga mengajari anak-anaknya membaca al-Qur’an di tempat itu. Ayah saya bilang kamar itu kamar suci. Anak-anak tidak boleh bermain-main di situ, tidak boleh berbicara tak tentu arah, dan juga tidak boleh buang angin. Namun dasar anak-anak, tatkala ayah tidak ada di ruang itu, mereka saling beradu bunyi buang angin. Suatu ketika kami ketahuan, dan ayah nampak marah. Kami semua diam. Karena rumah itu besar, maka anak-anak berbagi tugas untuk membersihkan rumah. Makum seumur hidup keluarga saya tak punya pembantu seperti keluarga orang di kota besar. Jangankan menggaji pembantu, untuk makan saja keluarga kami sudah sulit.

Saya kebagian tugas menyapu halaman rumah dan membakar daun-daunan. Bagi saya yang berusia lima tahun, menyapu halaman yang begitu luas, terasa sangat melelahkan. Namun saya melakukannya dengan senang hati sambil bermain. Saya masih ingat, pada dahan sebuah pohon, kami menyebutnya pohon rambai, saya membuat ayunan dari tali untuk bermain. Hampir setiap hari saya bergantung di dahan pohon itu. Inilah yang barangkali yang menyebabkan badan saya paling tinggi di antara semua kakak-beradik. Ketika tamat SMA tinggi saya 175 cm. Untuk ukuran generasi di zaman saya, jarang-jarang ada orang Belitung setinggi itu. Di belakang rumah kami, ada lapangan badminton. Pada malam-malam tertentu banyak orang bermain badminton, di bawah penerangan lampu listrik. Di antara mereka yang sering bermain badminton itu, saya ingat dua orang yang lebih tua usianya dari saya. Namanya Samad dan Ishak. Jauh di kemudian hari, Ishak menjadi Bupati di Belitung. Ketika kami bertemu, dan saya telah menjadi menteri, Ishak bercerita dia suka main badminton di belakang rumah kami. Saya masih ingat dengan jelas, walau peritsiwa itu sudah lama sekali, di tahun 1961, ketika saya masih kecil.

Di rumah kami itu tidak ada kamar mandi. Kami harus mandi ke sumur yang terletak di belakang rumah. Suatu hari, saya sungguh terkejut, karena melihat ada ular di kamar mandi. Saya berteriak ketakutan. Paman saya, Ismail, yang tinggal di sebelah rumah datang membantu. Beliau berhasil menemukan ular itu dan membunuhnya. Beliau bilang, ular itu ular tanah dan sangat berbisa, orang bisa mati kalau dipatuk ular itu. Saya lega. Namun sejak itu, saya merasa trauma. Ada perasaan takut kalau-kalau bertemu ular lagi di kamar mandi. Suatu ketika saya sungguh merasa senang ketika pohon-pohon mulai berbuah. Banyak sekali buah musiman, seperti durian, cempedak, rambutan, rambai dan langsat di halaman rumah kami. Anak-anak tetangga berdatangan untuk sama-sama memetik dan menikmati buah-buhan itu. Suatu hari, saya dan kakak saya yang perempuan lari ketakutan, karena ada beberapa orang laki-laki berseragam warna biru, yang wajahnya menakutkan, datang untuk ikut memetik buah.

Kami memberitahu ibu tentang kedatangan beberapa laki-laki itu. Ibu kami keluar dan melihat ke arah mereka. Ibu bilang, tidak usah takut. Orang-orang itu adalah “orang hukuman” yang sedang membersihkan halaman rumah tetangga kami. Ibu saya bilang, tetangga kita itu jaksa. Tentu saja saya tidak mengerti apa artinya jaksa. Saya menyangka tetangga kami itu polisi, karena setiap hari beliau memakai pakaian seragam. Saya tidak mengerti beda jaksa dengan polisi. Kami keluar rumah lagi. Ternyata benar, orang hukuman itu– mereka narapidana dari lembaga pemasyarakatan – ternyata bersikap ramah dan baik. Ibu mempersilahkan mereka memanjat pohon nangka dan memetik buahnya yang masak. Saya melihat mereka makan nangka dengan lahap. Ibu saya bilang, kasihan mereka itu. Mereka tinggal di “rumah tutupan”, istilah ibu saya untuk menyebut penjara. Mereka lapar dan ingin makan. Saya melihat ibu saya memberi minum kepada narapidana itu. Mereka nampak sangat hormat kepada ibu saya.

Tidak jauh dari rumah kami itu, ada rumah seorang kakak kandung ayah saya. Namanya Abdul Kadir. Saya masih ingat wajah beliau yang terlihat ramah dan selalu bercerita hal yang lucu-lucu. Agak beda dengan ayah saya yang wajahnya serius dan kurang suka dengan guyonan. Paman saya itu bekerja di rumah sakit Pemda, yang letaknya di Jalan Rahat, tidak jauh dari rumah kami. Berbeda dengan rumah yang kami tempati, rumah paman saya itu ukurannya kecil dan terletak di sebuah gang, di belakang rumah seorang Cina yang nampaknya sangat kaya. Saya masih ingat, orang menyebut nama orang Cina itu A Tuan. Dia nampaknya salah seorang pemilik perusahaan keramik yang cukup besar di Tanjung Pandan, yang belakangan saya ketahui bernama PT Keramika Indonesia (KIA). Saya sendiri tidak pernah melihat wajah A Tuan itu. Rumahnya dikelilingi tembok dan ada pohon-pohon cemara yang bagus dan terlihat jelas dari rumah kami.

Paman saya itu mempunyai dua anak perempuan. Tidak ada anak laki-laki. Karena itu beliau nampak senang kalau kami datang bermain-main ke rumahnya, karena kami anak laki-laki. Satu hal yang agak mengherankan saya ialah, paman saya itu selalu sakit-sakitan, padahal beliau bekerja di rumah sakit. Dalam pikiran anak kecil seperti saya, kalau orang bekerja di rumah sakit, tentulah tidak bisa sakit. Tetapi mengapa paman saya itu selalu sakit, sedang ayah saya, walaupun tidak kerja di rumah sakit, tetapi selalu sehat. Saya tidak bisa mengerti. Ayah saya menjelaskan bahwa seseorang bisa saja sakit, karena badannya tidak kuat. Jadi, walaupun bekerja di rumah sakit seperti paman saya itu, bisa saja diserang penyakit. Sedikit-sedikit saya bisa mengerti. Memang, di masa kecil saya pun sering menderita sakit. Kakak-kakak saya juga.

Waktu itu saya mulai menyadari, walaupun keluarga ayah saya miskin, tetapi paman saya itu nampak lebih miskin dibanding ayah saya. Peralatan rumahnya sederhana sekali. Di belakang rumahnya, saya melihat ada bengkel kayu dengan peralatan ala kadarnya. Rupanya paman saya itu membuat kursi dari kayu dan rotan untuk menambah penghasilannya sebagai pegawai kecil di rumah sakit. Kami sering juga meminjam peralatan paman saya itu. Kami memanfaatkan limbah kayu untuk membuat mainan. Saya senang dengan paman saya itu. Namun sakitnya nampak berterusan, sehingga suatu saat beliau meninggal dunia. Saya tidakingat lagi peristiwa wafatnya beliau. Saya hanya ingat beliau dimakamkan di pekuburan di belakang Rumah Sakit Pemda di Tanjung Pandan. Beberapa kali saya datang menziarahi pemakaman itu bersama ayah saya ketika saya masih kecil. Wafatnya paman saya itu, membuat derita isteri dan kedua anaknya nampak berkepanjangan. Ayah saya ingin membantu, namun hidup keluarga kamipun miskin pula.

Saya masih ingat juga, ayah saya membuka ladang di sebuah kampung tidak terlalu jauh dari rumah kami. Kampung itu namanya Aik Merebau. Tidak banyak yang saya ingat tentang kebun itu. Saya hanya ingat saya dibonceng naik sepeda ke ladang itu. Ayah saya nampaknya tidak serius membuka ladang. Beliau lebih sibuk bekerja sebagai Kepala Kantor Urusan Agama dan berdakwah dari satu tempat ke tempat lain. Boleh dikata setiap minggu beliau selalu menjadi khatib Jum’at berpindah-pindah dari satu mesjid ke mesjid lain. Kadang-kadang saya ikut beliau pergi sembahyang Jum’at itu. Sehabis menjadi khatib, beliau biasanya tidak langsung pulang. Pengurus mesjid atau tokoh masyarakat setempat mengajak beliau makan siang. Mereka berbincang-bincang cukup lama. Kadang-kadang saya bosan menunggu waktu untuk pulang. Tidak jarang saya tertidur di kursi menunggu beliau berbincang-bincang. Kegiatan dakwah beliau itu membuat beliau dikenal hampir semua orang di Tanjung Pandan, bahkan sampai ke desa-desa yang letaknya berjauhan.

Dalam usia lima tahun itu, saya selalu menyaksikan ayah saya membaca buku, koran dan majalah. Suatu hal yang menurut saya waktu itu terlihat aneh pada beliau, ialah kebiasaanya membeli buku, dan berlanggaan koran dan majalah. Sering saya menerima paket kiriman dari Jakarta, yang isinya ternyata buku pesanan ayah, atau majalah yang dikirim melalui pos. Berbagai macam buku yang beliau beli itu disusun rapi dalam sebuah lemari. Saya yang belum sekolah, senang juga melihat gambar-gambar yang ada di buku, koran dan majalah. Sesekali saya bertanya kepada beliau tentang gambar yang saya lihat, dan beliau menerangkannya. Dari kebiasaan saya menemani beliau membaca itu, pelan-pelan akhirnya membuat saya mengenal huruf. Saya akhirnya bisa membaca, walau saya belum masuk sekolah. Dari situlah saya dapat membedakan buku yang dibaca ayah saya ternyata tidak hanya dalam bahasa Indonesia. Beliau juga membaca buku berhasa Belanda dan Inggris. Kalau buku berbahasa Arab, dari hurufnya saja saya sudah dapat membedakan. Apalagi, ketika itu saya iku kakak-kakak saya belajar mengaji membaca al-Qur’an.

Di antara buku-buku dan majalah yang dibaca ayah saya itu, ada buku-buku yang tidak beliau izinkan untuk dibaca anak-anaknya. Belakangan, ketika saya sudah agak besar sedikit, saya baru mengerti kalau bacaan itu ternyata publikasi Partai Komunis Indonesia. Saya masih ingat ada buku-buku yang ada gambar palu arit, simbol PKI. Saya sedikit-sedikit mulai menyadari, maskipun ayah saya seorang Muslim yang agak keras dalam menjalankan agama, dan seorang aktivis Partai Masyumi pula, namun beliau mengikuti dan menelaah literatur-literatur Komunis dengan seksama. Saya juga akhirnya mengerti bahwa ayah saya juga membaca buku-buku kalangan nasionalis, terutama tulisan-tulisan Sukarno. Tulisan Sjahrir dan Tan Malaka, juga dikoleksi oleh beliau. Selain itu, saya juga melihat setumpukan koleksi naskah kesusasteraan Melayu lama, berisi berbagai syair dan hikayat, yang ditulis menggunakan huruf Arab Melayu. Beliau membaca syair itu seperti orang menyanyi. Suara beliau melantunkan berbagai syair itu terkadang membuat saya merasa sedih dan pilu. Saya masih ingat beliau membaca syair Burung Bayang, Syair Siti Zubaidah dan syair Singapura di makan api. Yang terakhir ini, mungkin ditulis oleh Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Kebiasaan ayah saya membaca buku itu tidak berubah, sampai beliau wafat.

Tentu saja hoby ayah saya membaca buku, koran dan majalah itu membuat ibu saya tidak selalu merasa senang. Beliau nampak kesal juga karena uang belanja keluarga yang sangat minim itu, ternyata masih dibelanjakan ayah saya untuk membeli buku. Kebiasaan beliau membaca buku berlama-lama itu juga membuah ibu saya jengkel. Saya mengerti, karena ibu saya setiap hari sibuk mengurusi anak-anak, yang ketika kami tinggal di Jalan Sijuk itu sudah delapan orang jumlahnya. Ibu saya hanya berpikir bagaimana memasak, memandikan anak-anak dan mencuci pakaian. Tetapi saya melihat ayah saya membantu mencuci pakaian. Beliau selalu mengisi air di dalam rumah dari sumur yang terletak di belakang, untuk keperluan minum dan mencuci piring dan. Saya juga menyaksikan beliau membelah kayu menggunakan sebilah kampak untuk keperluan memasak. Adakalanya beliau mengerjakan semua itu setelah ibu saya ngomel di dapur.

Saya sering juga dibonceng ayah saya naik sepeda pergi ke pasar membeli ikan dan sayur mayur. Satu hal yang membuat saya merasa aneh, ialah banyak pedagang ikan itu yang tidak mau menerima uang ayah saya ketika beliau membayar. Belakangan saya tahu kalau pedagang ikan itu selalu mengikuti pengajian beliau di sebuah langgar, tak jauh dari Pasar Ikan itu. Di antara orang-orang yang datang dan pergi bertamu ke rumah kami, seringkali pula saya melihat mereka membawa kelapa, ubi kayu atau ikan asin. Itulah kebiasaan orang di kampung. Ayah saya tak henti-hentinya menerima tamu dengan berbagai keperluan. Beliau nampaknya tempat orang bertanya segala macam persoalan. Kebanyakan datang meminta nasehat sekitar perkawinan, maklum beliau Kepala Kantor Urusan Agama. Ada pula yang datang membawa masalah warisan keluarga mereka.

Anehnya, apa yang dikatakan beliau dituruti orang dan nampak sebagai kata putus. Hampir tak ada perkara waris yang diajukan ke pengadilan agama, karena biasanya bila beliau telah memberi nasehat, orang yang datang merasa puas dan menerimanya. Saya baru tahu belakang hari tentang hal ini, ketika beliau telah diangkat menjadi hakim Mahkamah Syari’ah. Pernah pula satu kali saya melihat ada orang dari suku Bugis datang ke rumah kami membawa parang. Orang itu datang nampak seperti orang mau mengamuk. Saya tidak tahu ada masalah apa. Saya dan kakak saya hanya bersembunyi dan mengintip melihat orang Bugis itu berbincang dengan ayah saya. Tetapi setelah bertemu ayah saya, orang Bugis itu pulang sambil menangis. Parang yang dibawanya ditinggal di rumah kami.

Di waktu kecil itu saya heran melihat ayah saya itu. Teman-teman saya sepermainan, ada yang bilang ayah saya itu punya ilmu, yang membuat orang takut kepada beliau. Saya hanya setengah percaya setengah tidak. Baru jauh di belakang hari saya menyadari, bahwa bagi orang-orang yang hidup sederhana di kampung, manusia seperti ayah saya itu sungguh merupakan sosok yang disegani dan berwibawa di mata mereka. Ketika saya SMP saya baru menyadari ayah saya itu orang yang rasional. Pandangan keagamaannya sungguh modern. Beliau sungguh tidak percaya dengan hal-hal berbau mistik. Sungguhpun demikian, beliau sangat toleran. Beliau mau menghadiri upacara selamatan laut, yang merupakan upacara kegamaan pra-Islam. Beliau bersedia pula membaca doa menurut agama Islam pada upacara itu, sehingga hal-hal yang semula bersifat “animistik” secara berangsur mendapatkan warna keislaman.

Sewaktu tinggal di Jalan Sijuk itu saya baru mengetahui kantor ayah saya terletak di depan Mesjid Raya Tanjung Pandan. Bangunan Kantor Urusan Agama itu nampak sederhana saja, terbuat dari kayu, berdinding papan dan beratap seng. Sesekali saya diajak ayah saya ke kantor naik sepeda. Di sebelah kantor itu ada sebuah sekolah, yangberasal dari abad ke 19. Sebab kakek saya dari pihak ibu pernah bersekolah di situ. Beliau tamat tidak lama sesudah gunung Krakatau meletus, mungkin sekitar tahun 1885. Kakek saya menyebut sekolah itu “Sekolah Raja”. Saya tidak tahu, mengapa sekolah itu dinamakan sekolah raja. Di abad 19 barangkali sekolah itu adalah satu-satunya sekolah untuk kaum pribumi yang ada di Belitung. Di masa merdeka, sekolah itu diubah menjadi sekolah rakyat, atau sekolah dasar sekarang. Kakak-kakak saya bersekolah ditempat itu. Suatu hari saya masih ingat kakak saya terlambat masuk ke kelas. Dia nampak sangat takut, kalau-kalau dimarahi gurunya. Tetapi ayah saya, dan saya ikut mengantarnya ke sekolah. Ayah menjelaskan sebab-sebab keterlambatannya. Ternyata guru kelas itu adalah saudara sepupu ayah saya sendiri. Guru itu perempuan, saya sudah lupa namanya. Kami hanya memanggilnya “Mak Mok”. Kesan saya, guru perempuan itu nampak sangat ramah.

Di masa kecil saya ingat sekali bahwa saya sering menderita sakit. Ayah saya selalu membawa saya ke rumah sakit di Jalan Rahat. Karena ayah saya pegawai negeri, kami tidak perlu membayar biaya berobat. Termasuk pula obat-obatannya. Saya ingat betul, saya selalu minum obat batuk yang berwarna hitam dan dikemas dalam botol. Kalau sesudah minum obat batuk itu, rasanya selalu ingin muntah. Tetapi, apa boleh buat saya harus meminumnya. Ketika kecil di Tanjung Pandan itu, saya ingin sekali sekolah taman kanak-kanak. Saya senang sekali melihat murid-murid sekolah taman kanak-kanak. Mereka kelihatannya senang, karena selalu bernyanyi. Tetapi satu-satunya sekolah taman kanak-kanak yang ada, hanya diperuntukkan bagi anak pegawai PN Tambang Timah dari kalangan pimpinan saja. Karena ayah saya bukan pegawai timah, saya tidak dapat bersekolah. Anak-anak pegawai PN Timah dari kelas rendahan juga tidak dapat masuk ke sekolah taman kanan-kanak itu.

Ketika tinggal di Jalan Sijuk itu, saya ingat ketika bulan puasa tiba. Saya mulai belajar berpuasa, kadang-kadang sehari penuh, kadang-kadang tidak sanggup. Saya masih ingat ibu saya menyiapkan makanan sahur dan berbuka puasa ala kadarnya. Malam hari saya ikut ayah saya dan kakak-kakak yang lain pergi melaksanakan solat tarawih. Suatu hal yang menarik bagi saya di waktu kecil ialah kami membuat lampu likuran dan bermain bedil. Lampu likuran itu kami buat menggunakan bohlam bekas, yang dibuat sumbunya dari bekas tutup botol limun, seperti tutup botol coca cola sekarang ini. Bohlam itu diisi minyak tanah atau solar dan sumbunya dinyalakan. Ada juga lampu likuran yang dibuat dari bambu, dan sumbunya bisa lebih banyak lagi. Lampu likuran itu dinyalakan pada malam ke 21 bulan Ramadhan. Orang-orang kampung mengatakan, lampu itu dinyalakan untuk menyambut kedatangan malaikat pada malam Lailatul Qadar. Lampu likuran itu bisa belasan, bahkan puluhan jumlahnya di setiap rumah. Kami memasangnya bukan hanya di pagar halaman, tetapi juga di dahan-dahan pohon, sehingga nampak indah kelihatannya.

Bunyi bedil juga saling bersahut-sahutan selama bulan puasa. Ada bedil yang terbuat dari bambu diisi minyak tanah. Ada pula bedil dari pipa besi yang diisi karbit. Bunyinya luar biasa kencangnya. Saya suka menyaksikan anak-anak yang lebih tua usianya bermain bedil. Suatu ketika saya menyaksikan bedil dari bambu ditiup dan apinya keluar. Seorang anak, hangus bulu matanya terjilat api. Sebab itu saya tidak suka membuat bedil dari bambu, saya lebih suka bermain bedil dari besi, atau dengan cara menyambung kaleng susu manis dan menanamnya di dalam tanah dan di isi karbit.Bunyi meriam karbit lebih keras dibandingkan dengan bedil bambu, dan juga lebih aman. Di zaman itu, polisi tidak melarang rakyat bermain bedil, walau kadang-kadang diprotes oleh tetangga yang merasa waktu istirahatnya terusik oleh kerasnya bunyi meriam.

Menjelang lebaran ibu saya sibuk menjahit baju untuk anak-anaknya. Beliau pergi ke pasar membeli bahan baju yang murah harganya. Saya masih ingat ada baju yang beliau buat dari bahan yang dinamakan “belacu”. Warnanya kream. Betapapun sederhana, namun memakai baju baru pada saat lebaran adalah suatu kegembiraan yang luar biasa. Seperti anak-anak yang lain, kami berlebaran dengan tetangga. Kepada anak-anak disediakan minuman dari sirup dan diberi uang. Walaupun uangnya sedikit, tetapi bagi anak-anak sungguh menyenangkan. Ayah saya dan keluarga juga mengunjungi sanak famili atau kenalannya. Kami pergi berjalan kaki. Rumah yang dikunjungi sebenarnya dekat saja, walau di masa kecil sayamerasa sangat jauh. Salah satu rumah yang dikunjungi itu ialah rumah Pak Haji Saad. Beliau itu paman ibu saya. Rumahnya terletak di Kampung Pangkal Lalang. Beliau banyak bercerita pengalamannya di masa lalu.

Di masa muda Pak Haji Saad pernah menjadi marinir Belanda, tetapi kemudian berhenti dan menjadi nakhoda kapal. Karena itu beliau mengunjungi banyak negeri sampai ke Singapura dan Malaysia. Beliau juga sering bercerita pengalamannya naik haji menggunakan kapal KPM (kapal Pelni sekarang). Cerita-cerita beliau itu, dengan disertai guyon-guyon, membuat saya tertarik mendengarnya. Di masa tua, Haji Saad itu nampak sebagai orang tua yang taat menjalankan ibadah agama. Namun suatu hari ibu saya sambil tertawa mengatakan kepada saya, bahwa paman beliau itu di masa muda, termasuk “kelompok begajul” atau kelompok preman istilah sekarang ini. Bagi saya tidak mengapa, itu adalah masa lalu beliau. Namun begitu, gaya premannya itu masih terasa, walau beliau ketika itu sudah tergolong lanjut usianya. Maklumlah di masa muda, beliau seorang anggota marinir. Jarang-jarang saya mendengar orang Belitung jadi marinir, apalagi di zaman Belanda.

Keluarga lain, yang sering juga dikunjungi ayah saya ialah keluarga Pak Haji Itam. Rumah beliau terletak di sisi lapangan bola di Kampung Amau. Di dekat rumah beliau itu ada sebuah masjid yang ayah saya sering memberikan pengajian di tempat itu. Saya hanya kadang-kadang saja menyaksikan pertandingan sepak bola di lapangan itu. Saya ingat ada cucu beliau namanya Bukhori. Dia senang bermain musik. Di usia sekitar lima tahun itu, saya sangat tertarik pada musik. Saya ingin belajar main gitar, tetapi keluarga kami tak mampu membelinya. Di mata saya, gitar sungguh merupakan benda yang mahal, yang tak mungkin terjangkau untuk dibeli. Saya juga pernah menyaksikan orang bermain atraksi di lapangan bola itu, yang disebut “radar”. Mereka nampak seperti orang dihipnotis, namun dapat mengendarai sepeda motor dan jeep. Mereka juga mampu menembak balon dengan senapang angin, walau matanya ditutup. Orang yang dihipnotis itu juga digilas roda jeep, tanpa membawa akibat apa-apa. Ada juga yang ditanam di dalam tanah sampai sehari, namun ketika digali lagi ternyata masih hidup. Bagi saya yang masih kecil, atraksi itu sungguh menakjubkan.

Itulah hal-hal yang masih saya ingat dengan jelas, ketika saya kecil dan tinggal di Tanjung Pandan. Akhir tahun 1961, keluarga kami pindah lagi ke Manggar. Ayah saya dipindahkan menjadi Kepala Kantor Urusan Agama di tempat kelahiran saya. Saya sungguh merasa senang akan kembali ke Manggar. Kami akan menempati kembali rumah kami di Kampung Sekip. Ibu saya juga nampak senang, karena beliau akan tinggal lebih dekat dengan kedua orang tuanya. Saya ingat ketika kami pindah kembali ke Manggar. Kami berangkat malam-malam menggunakan mobil besar seperti bis, yang biasa digunakan untuk mengangkut pegawai PN Timah pergi bekarja. Belakangan ada truk milik Pemerintah Daerah yang membawa berbagai peralatan rumah kami yang sederhana dari Tanjung Pandan ke Manggar. Saya kembali ke Manggar, dan mulai masuk sekolah dua tahun kemudian di tahun 1963. Saya menetap di kota ini sampai remaja dan menamatkan SMA. Tamat SMA saya pindah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan. Saya masih akan melanjutkan cerita kenang-kenangan ini, pada bagian selanjutnya. Ketika itu saya sudah agak besar, sehingga lebih banyak hal yang saya ingat. Dengan demikian, Insya Allah, akan lebih banyak lagi hal yang dapat saya tuliskan sebagai kenang-kenangan masa kecil di kampung.

Wallahu’alam bissawwab.

Oktober 4, 2013 Posted by | Cakap Cakap | Tinggalkan komentar

KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL Prof. Dr. Tengku YUSRIL IHZA MAHENDRA (Bagian II)

Gambar

Sebelum saya melanjutkan kenang-kenangan hidup saya di masa kecil, saya ingin menjelaskan serba sedikit tentang asal-usul keluarga saya. Latar belakang asal-usul keluarga itu sangat penting untuk memahami perjalanan hidup saya selanjutnya, baik ketika masih kecil hingga remaja, maupun ketika saya mulai masuk ke alam dewasa. Menjelaskan asal usul keluarga, bagi orang Belitung haruslah menjelaskan kedua keluarga orang tua, ayah dan ibu. Orang Belitung menganut sistem kekeluargaanbilateral, artinya anak akan menarik garis keturunan kepada keluarga ayah dan sekaligus kepada keluarga ibu. Oleh sebab itu Hukum Adat Belitung membolehkan dua saudara sepupu untuk menikah. Laki-laki boleh melamar perempuan menjadi isterinya. Sebaliknya juga perempuan boleh melamar laki-laki menjadi suaminya. Jadi berbeda dengan orang Batak yang menganut sistem kekeluargaan patrilineal, yakni hanya menarik garis keturunan ke garis ayah, tidak ke garis ibu. Laki-laki Batak harus melamar perempuan yang akan jadi istrinya. Mustahil ada perempuan Batak melamar seorang laki-laki menjadi suaminya. Hukum Adat Batak melarang dua saudara sepupu untuk menikah, jika kedua ayah mereka bersaudara kandung. Berbeda pula dengan orang Minangkabau yang menganut sistem kekeluargaan matrilineal, yakni hanya menarik garis keturunan kepada garis ibu, tetapi tidak ke garis ayah. Hukum Adat Minangkabau melarang dua saudara sepupu untuk menikah, jika kedua ibu mereka bersaudara kandung.  Perempuan Minangkabau, menurut adat, akan melamar laki-laki jadi bakal suaminya. Mustahil laki-laki Minang melamar perempuan jadi istrinya. Menurut Professor Hazairin, sistem kekeluargaan bilateral lebih sesuai dengan Hukum Islam, walau orang Arab menganut sistem kekeluargaan patrilineal. Baiklah, tanpa berpanjang kalam soal sistem kekerabatan ini, saya akan memulakan kisah tentang keluarga saya dari pihak ayah lebih dahulu.

Ayah saya bernama Idris. Nama ini diambil dari nama seorang nabi setelah Nabi Adam a.s, sebagaimana dikisahkan di dalam Kitab Taurat dan al-Qur’an. Beliau anak ke enam dari delapan bersaudara dari pasangan Haji Zainal Abidin bin Haji Ahmad (lihat foto) dengan Aminah, yang setelah tua dipanggil Nek Kuset. Saudara-saudara kandung ayah saya yang lainnya bernama Baziek, Baharum, Baksin, Abdul Kadir, Adam, Zauna dan Arba’ie. Sayamengenal seluruh saudara kandung ayah saya itu, kecuali Baziek yang sudah meninggal di Pontianak, Kalimantan Barat, sebelum saya lahir. Ketika saya lahir nenek saya juga sudah meninggal dunia, sehingga saya tidak pernah bertemu dengan beliau. Namun ayah saya menyimpan selembar foto nenek saya itu yang dibuat sekitar tahun 1938, sehingga saya dapat melihat wajahnya. Haji Zainal, kakek saya itu adalah anak satu-satunya dari perkawinan antara Haji Ahmad bin Haji Taib dengan Raisah alias Nek Penyok. Setelah berpisah dengan Raisah, Haji Ahmad menikah lagi dengan seorang wanita bernama Nek Rambai dan mendapat seorang putra bernama Hamzah. Setelah Nek Rambai wafat, Haji Ahmad kemudian menikah dengan seorang wanita bangsawan setempat, namanya Nyi Ayu Mastura. Dari perkawinan kedua ini beliau mempunyai beberapa anak, masing-masing bernama Moestar, Jusuf, Abdullah, Hawa, Aisyah dan Ya’kub. Haji Ahmad adalah putra dari Haji Taib. Daftar silsilah yang tertulis pada lembaran kertas yang sangat panjang yang dimiliki ayah dan paman saya, berhenti sampai Haji Taib. Keluarga di atasnya tidak tercatat dalam urutan silsilah mereka. Kalau saya bertanya, di mana catatan silsilah di atas Haji Taib, mereka selalu mengatakan “ada di Johor”. Saya tidak tahu dengan siapa saya akan mendapatkan silsilah itu di Negeri Johor.
Haji Taib bukan orang asli Pulau Belitung. Ayah dan paman-paman saya mengatakan Haji Taib sebenarnya adalah seorang bangsawan bergelar tengku yang berasal dari Negeri Johor. Ibu kota Kesultanan Johor di masa itu mungkin masih berada di Pulau Lingga, Kepulauan Riau sekarang, sebelum ada Johor Bahru di Semenanjung Malaya. Mungkin karena sebab-sebab keluarga dan politik, beliau beserta keluarganya hijrah ke Belitung pada awal abad ke 19. Beliau menanggalkan gelar kebangsawanannya dan hidup sebagai layaknya orang kebanyakan serta menjadi ulama. Kecintaannya kepada agama itu mendorongnya untuk berlayar ke Mekkah dengan perahu yang dibuatnya sendiri. Anaknya Haji Ahmad juga mengikuti beliau berlayar menunaikan ibadah haji. Menurut kebiasaan masyarakat di awal abad ke 19, ketika perahu akan berlayar meninggalkan dermaga, orang sekampung berduyun-duyun mengantarkan perahu yang akan berlayar ke Jeddah, sambi membaca doa dan melantunkan shalawat. Ketika layar perahu menghilang dari pandangan, orang di kampung membaca talqin dan bersedekah setiap habis magrib sampai hari ke tujuh. Tradisi seperti itu lazimnya dilakukan ketika ada keluarga yang meninggal.

Mereka menganggap orang yang berlayar naik perahu ke Jeddah itu sama dengan orang mati. Betapa tidak. Di zaman itu, perahu tidak bermesin, hanya berlayar dan berdayung belaka. Tidak ada alat telekomunikasi seperti zaman sekarang untuk berhubungan. Kalau ingin menulis suratpun seandainya telah sampai ke Jeddah, siapa pula gerangan tukang pos yang akan mengantarkan surat itu ke kampung halaman. Dalam perahu yang tak seberapa besar itu, Haji Taib dan Haji Ahmad – tentu saja mereka belum haji ketika itu — berbekal beras, jagung, ikan asin, terasi dan daging kering sebagai bekal makanan. Mereka juga membawa emas dan perak sebagai bekal belanja. Pelayaran mereka menyusuri Selat Melaka dan menyusun pantai Asia Selatan untuk sampai ke negeri Jeddah. Merekapun singgah di negeri-negeri yang tak mereka kenal, sekedar untuk mengambil air dan menambal layar yang koyak tertiup angin. Konon lebih tiga tahun kemudian baru mereka pulang ke Belitung. Dapat dibayangkan betapa bersykur dan sukacitanya sanak keluarga dan orang sekampung menyambut kedatangan mereka. Orang pulang haji dengan naik perahu layar bisa pulang kembali dengan selamat adalah suatu peristiwa yang menakjubkan. Konon tidak sedikit mereka yang pergi haji dengan cara yang sama, tak pernah kembali lagi ke kampung halaman. Mungkin perahu mereka telah ditenggelamkan ombak dan badai yang ganas di Lautan Hindia.

Oktober 4, 2013 Posted by | Cakap Cakap | Tinggalkan komentar

KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL Prof. Dr. Tengku YUSRIL IHZA MAHENDRA (Bagian III)

Gambar

Setelah saya menguraikan panjang lebar kisah tentang keluarga saya dari pihak ayah, maka tibalah saatnya bagi saya sekarang untuk menuliskan kisah keluarga saya dari pihak itu. Ibu saya bernama Siha atau Nursiha, putri dari Jama Sandon dan Hadiah. Beliau lahir tanggal 14 Juli 1929 di Kecamatan Gantung sekarang ini (lihat foto kakek dan ibu saya pada tahun 1939). Beliau adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Namun tiga kakaknya, yang semuanya perempuan meninggal dunia di masa kecil. Keluarga kakek dan nenek saya percaya bahwa mereka tidak bernasib baik untuk memiliki anak. Sebab itu, ketika lahir anak yang keempat, seorang laki-laki yang dinamai Bujang, bayi itu segera diberikan kepada orang lain, dengan kepercayaan anak itu tidak akan mati seperti kakak-kakaknya.

Sesudah Bujang diberikan kepada orang lain, lahirlah ibu saya, Siha. Namun rupanya anak perempuan ini tidak diberikan kepada orang lain. Kedua orang tua itu rupanya sangat sayang dengan anak ini. Karena itu mereka mengambil risiko memeliharanya dengan susah payah, dengan harapan agar tetap hidup. Sebab itulah, kakek dan nenek saya selalu menganggap ibu saya sebagai anak tunggal, walau kenyataannya kakaknya, Bujang, yang diberikan kepada orang lain itu tetap hidup sampai tua dan wafat pada tahun 2003. Paman saya bernama Bujang itu, tidak tinggal di Belitung. Beliau merantau dan tinggal di Pulau Kijang, Kepulauan Riau. Beliau bekerja di sana sebagai teknisi perusahaan bauksit. Saya baru bertemu dengan Bujang, setelah beliau lanjut usianya. Namun tiga anaknya yang tinggal di Tanjung Pandan, saya kenal dengan baik dan cukup akrab dengan saya kakak-beradik. Anak-anak Bujang itu namanya Muslim, Sulaiman dan Topyani. Ketika muda, Muslim itu menjadi jagoan dan preman di Tanjung Pandan. Dia tersohor karena sering berkelahi. Sampai-sampai ada dua polisi dia gebuki hingga babak belur. Salah seorang polisi itu terpaksa dirawat di rumah sakit, karena perutnya luka ditusuk Muslim pakai obeng. Ketika saya masih muda, banyak orang Belitung tidak tahu kalau Muslim sang preman dan jagoan itu adalah saudara sepupu saya. Kalau tahu, bisa-bisa saya disangka preman juga.

Saya berusaha untuk menelusuri asal usul kakek saya Jama Sandon itu dan bertanya ke sana ke mari. Namun riwayat keluarganya misterius dan bahkan bercampur-baur dengan dongeng. Kalau saya perhatikan wajah dan postur tubuh kakek saya itu, beliau tidak nampak seperti postur dan wajah orang Belitung, bahkan orang Indonesia pada umumnya. Nama beliau itupun tidak lazim bagi masyarakat Belitung. Tinggi beliau diatas 170 cm, dengan badan tegap, hidung mancung dan matanya berwarna coklat kebiruan. Ayah beliau, namanya Musa. Hanya itu saja yang diketahui. Tidak ada sanak saudara Musa di Belitung. Dia sebatang kara, sehingga riwayatnya tidak dapat ditelusuri lagi. Keluarga ibu saya mengatakan Musa itu orang Persia atau orang Iran sekarang ini. Benar tidaknya wallahu’alam. Tapi mungkin juga, kalau melihat perawakan dan wajah kakek saya yang nampak seperti orang asing. Isteri Musa itu namanya Muna. Beliau ini lebih misterius lagi, karena beliau dipercayai sebagai putri orang Bunian, makhluk halus sebangsa jin, penghuni hutan belantara.

Syahdan kisahnya, adalah sepasang suami isteri yang tinggal di tepi rimba belantara di pedalaman Belitung, yang sampai usia hampir lanjut tak memperoleh seorang anakpun. Suatu hari ketika hujan deras dan petir menggelegar telah reda, pasangan suami istri itu mendengar suara tangis bayi di belakang rumahnya. Tentu saja mereka heran, mengapa tiba-tiba ada bayi menangis ketika hujan deras telah reda. Mereka segera keluar rumah dan mencari asal suara itu, yang terdengar dari arah rumpun bambu hutan yang sangat besar ukurannya. Salah satu batang bambu itu terbelah, dan di dalam ruas bambu itulah mereka melihat seorang bayi sedang menangis. Di tengah rasa heran bukan kepalang itu, kedua suami isteri itu akhirnya berhasil mengeluarkan bayi dari ruas bambu yang terbelah itu. Bayi itu ternyata perempuan. Mereka membawanya masuk ke dalam rumah.

Oktober 4, 2013 Posted by | Cakap Cakap | Tinggalkan komentar

KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL Prof. Dr. Tengku YUSRIL IHZA MAHENDRA (Bagian IV)

Gambar

Sebelum saya melanjutkan kisah kenang-kenangan hidup di masa kecil, saya merasa perlu untuk menjelaskan setting sosial masyarakat Belitung lebih dahulu. Pemahaman terhadap setting sosial ini sangat penting untuk memahami latar belakang kehidupansaya di masa kecil, dan pergaulan serta pergulatan kehidupan saya dengan masyarakat sekitar. Apa yang saya gambarkan ini seluruhnya didasarkan atas osbervasi dan pengalaman empiris saya yang terjadi di masa lalu. Pada bagian-bagian tertentu, saya mendiskusikannya dengan kakak dan adik saya. Observasi dan pengalaman empiris itu saya diskripsikan dan sekaligus saya analisis berdasarkan perspektif ilmu-ilmu sosial dari masa sekarang. Tentu hasilnya masih jauh dari sempurna. Saya mencoba mendekati masalah ini dengan menggabungkan pendekatan sejarah dan antropologi. Mudah-mudahan deskripsi dan analisis ini tidak melenceng dari realitas yang sesungguhnya ada dalam kehidupan masyarakat Belitung antara tahun 1961-1975.

Saya lahir dan menetap di Belitung selama sembilan belas tahun. Ketika itu Belitung hanya terdiri dari satu kabupaten — yakni Kabupaten Belitung–dengan Tanjung Pandan sebagai ibukotanya. Kabupaten Belitung terdiri atas tiga kecamatan, yakni Kecamatan Tanjung Pandan, Kecamatan Manggar, Kecamatan Gantung dan Kecamatan Membalong. Kabupaten Belitung berada di wilayah Provinsi Sumatera Selatan, dengan ibukota Palembang. Di zaman kolonial, Belitung bersama-sama dengan Bangka, pulau di sebelahnya, adalah suatu keresidenan.Residen Bangka Belitung beribukotakan Pangkal Pinang. Di Belitung ada seorang Asisten Residen berkedudukan di Tanjung Pandan. Di zaman kolonial, Belitung dibagi ke dalam beberapa wilayah setingkat kecamatan di masa sekarang, yang dipimpin oleh seorang Demang. Asisten Residen dijabat orang Belanda. Namun para demang dijabat oleh orang pribumi bergelar Ki Agus,yang menunjukkan bahwa mereka adalah bangsawan yang diwarisi dari Kesultanan Palembang di masa lalu. Belitung pernah menjadi koloni Inggris pada awal abad 19, bersamaan dengan Bencoolen atau Bengkulu sekarang ini. Namun pada tahun 1816, Belanda menukar Belitung dengan Singapura, berdasarkan perjanjian kedua negara. Sejak itu, Belanda menguasai Belitung dan Inggris menguasai Singapura.

Di zaman kemerdekaan, sebagaimana daerah-daerah lain, Belitung otomatis menjadi wilayah negara kesatuan Republik Indonesia. Pada akhir tahun 1949, Bangka Belitung pernah menjadi “satuan negara yang berdiri sendiri” sebagai salah satu dari 16 negara bagian Republik Indonesia Serikat (RIS). Setelah kita kembali lagi ke susunan negara kesatuan pada tahun 1950, Belitung menjadi kabupaten di bawah Provinsi Sumatra Selatan. Sejak tahun 1956, masyarakat Bangka Belitung memperjuangkan pembentukan provinsi sendiri, terlepas dari Sumatera Selatan. Perjuangan itu memakan waktu yang cukup panjang, setelah semua bekas keresidenan di Sumatera bagian Selatan menjadi provinsi tersendiri, yakni Keresidenan Palembang (Sumatera Selatan), Lampung, Jambi dan Bengkulu. Upaya itu baru terujud tahun 2000 bersamaan dengan pembentukan Provinsi Banten. Sejak itu Pulau Belitung dibagi menjadi dua kabupaten, yakni Kabupaten Belitung beribukotakan Tanjung Pandan, dan Kabupaten Belitung Timur dengan Manggar sebagai ibukotanya. Pemekaran kabupaten ini diikuti pula oleh pemekaran kecamatan dan desa. Kota tempat saya lahir dan dibesarkan, yang semula hanyalah kota kecamatan, kini telah berubah menjadi ibukota kabupaten.

Saya tidak dapat mengetahui dengan pasti sejak kapan Pulau Belitung itu dihuni manusia. Kebanyakan orang Belitung, termasuk saya sendiri, kalau diurut silsilahnya, maka pada generasi keempat diatasnya, kebanyakan adalah kaum pendatang. Penduduk Belitung membagi dirinya dalam dua kelompok, pertama kelompok mayoritas yang dari sudut budaya dan bahasa dapat dikelompokkan sebagai orang Melayu. Kesamaan kultural dengan masyarakat Melayu Riau dan Johor di Semenanjung Malaya, sangat terasa. Kelompok kedua, yang lebih sedikit jumlahnya adalah kelompok Suku Lalut atau suku Sawang, yang mendiami daerah pantai. Postur tubuh dan wajah kedua kelompok ini sangat kentara. Suku Laut mempunyai postur tubuh yang lebih besar, lebih kekar dengan kulit warna coklat kemerahan. Suku Laut terdapat pula di Kepualauan Riau. Legenda-legenda Suku Laut menyebutkan bahwa nenek moyang mereka adalah Lanun, atau bajak laut berasal dari Pulau Mindanao di Philipina. Di sekitar Belitung memang ada sebuah pulau yang bernama Mendanau. Apakah ada hubungannya dengan Mindanao di Philipina, saya belum pernah menelaahnya. Dari pengamatan saya yang hanya sepintas, memang terdapat kesamaan postur tubuh, warna kulit, serta bahasa dan berbagai jenis kesenian antara Suku Laut dengan penduduk asli Mindanao di Philipina.

Orang Melayu Belitung beragama Islam dan bertutur bahasa mendekati bahasa Kepualauan Riau dan Bahasa Johor. Bagaimana sikap keagamaan masyarakat Belitung, akan saya uraikan dalam paragraf-paragraf di bawah nanti. Sementara orang Laut menganut agama asli, semacam animisme. Orang Laut menggunakan Bahasa Melayu Tua. Jumlah suku Laut kini kian sedikit, karena pertumbuhan mereka sangat jarang. Sebagian besar orang Laut juga telah membaur dengan orang Melayu dan memeluk agama Islam. Orang Melayu Belitung membedakan dirinya ke dalam dua kategori, yakni Orang Pesisir dan Orang Darat. Orang Pesisir tinggal di sekitar pantai, dan Orang Darat tinggal di daerah pedalaman. Dalam perkembangan masyarakat Belitung, Orang Pesisir lebih mudah beradaptasi dengan perkembangan baru. Sementara Orang Darat relatif lebih lambat. Saya menggunakan istilah Orang Pesisir dan Orang Darat ini dalam bentuk yang netral, tidak menganggap budaya yang satu lebih tinggi dari yang lain.

Oktober 4, 2013 Posted by | Cakap Cakap | Tinggalkan komentar

KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL Prof. Dr. Tengku YUSRIL IHZA MAHENDRA (Bagian V)

Gambar

Dalam Bagian IV serial tulisan ini, saya telah menjelaskan setting sosial masyarakat Belitung, tempat saya lahir dan menetap di situ sampai tamat SMA. Gambaran tentang setting sosial itu, saya harapkan akan membantu menjelaskan pergaulan dan pergulatan saya dengan masyarakat sekitar. Dalam konteks sosial seperti itulah saya lahir dan dibesarkan. Dalam lingkungan sosial seperti itu pula saya mengalami sosialisasi kehidupan, yang turut membentuk pemikiran, sikap hidup dan cara pandang dalam menatap setiap persoalan hidup. Dalam konteks sosial seperti itu pula saya harus berpikir dan memberikan respons terhadap setiap tantangan. Semua itu tentu akan memberikan pengaruh ke dalam perjalanan hidup saya selanjutnya. Sosialisasi keluarga yang telah saya kisahkan dalam Bagian I, II dan III masih akan saya lanjutkan dalam seri kali ini, dan dalam serial-serial lanjutannya.

Seperti telah saya kemukakan dalam Bagian I, keluarga kami pindah kembali ke Menggar pada akhir tahun 1961. Ayah saya yang semula Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Tanjung Pandan, dipindahkan menjadi Kepala KUA Kecamatan Manggar. Kami sekeluarga merasa senang akan kembali ke kota tempat kami berasal.
Semua keluarga kami pindah, kecuali kakak tertua, namanya Yuslim, yang tetap tinggal di Tanjung Pandan. Dia tetap tinggal di sana, karena sejak tahun 1959 dia telah masuk sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama). Ayah saya, nampaknya ingin agar anak pertamanya itu menjadi guru agama, sehingga dia tidak disekolahkan ke SMP. Di Manggar tidak ada PGA, maka terpaksalah kakak tertua itu tinggal di rumah tetangga kami Pak Sulaiman Talib, di Kampung Parit, Tanjung Pandan. Agar mudah dia bersekolah, kakek saya membelikan sebuah sepeda untuknya. Saya masih ingat betul sepeda itu warnanya hijau. Orang Belitung menyebutnya sepeda jengki.Ukurannya lebih kecil dari rata-rata sepeda yang dipakai orang dewasa.

Kami hanya tinggal beberapa minggu di rumah kakek saya Jama Sandon, sebelum seluruh keluarga pindah menempati rumah ayah saya sendiri di Kampung Sekep. Kampung ini tergolong kampung yang masih baru dibandingkan kampung-kampung lain di kota Manggar. Seperti akan saya kisahkan lebih rinci di bawah nanti, kampung ini dulunya bekas kiumi, yakni lokasi penambangan timah di darat, namun sudah direklamasi. Kampung ini disebut Kampung Sekep, karena dahulunya pernah digunakan polisi sebagai kawasan latihan menembak dengan senjata api. Mereka menempatkan sasaran untuk menembak berjajar-jajar di lembah padang pasir. Sararan peluru itu, oleh polisi dinamakan Skip. Karena skip itu dibuat agak permanen pada sebuah jurang dengan latar belakang dinding pasir bekas tambang timah, maka lama kelamaan kawasan itu disebut masyarakat sekitar dengan istilah Kampung Skip. Lidah orang Belitung agak susah mengucapkan kata Skip. Karena itu mereka mengucapkannya sekip atau sekep. Maka jadilah kampung itu Kampung Sekep seperti dikenal sampai sekarang.

Sebagai daerah bekas tambang timah, Kampung Sekep terasa panas bagai gurun pasir. Baru sedikit pepohonan yang tumbuh di sana. Namun tetangga rudah relatif banyak yang menetap di situsebelum kami pidah kembali ke rumah itu. Penduduk kampung ini rata-rata miskin dan sederhana. Mereka terdiri dari pegawai rendahan perusahaan timah, petani dan nelayan. Hanya ada tiga orang pegawai negeri tinggal di kampung ini. Pertama adalah ayah saya,kedua tetangga kami Pak Sjafri Sulur atau biasa dipanggil Pak Iting. Beliau seorang guru SD. Ketiga Pak Ramli, beliau pegawai negeri rendahan bekerja di Kantor Camat. Penduduk Kampung Sekep terdiri atas pribumi Belitung yang berasal dari berbagai kampung yang lain, suku Bugis, Bawean dan beberapa berasal dari Jawa. Jalan menuju Kampung Sekep ketika itu terbuat dari tanah dan batu kerikil merah tanpa aspal. Kalau musim hujan, jalan itu becek dan licin. Kalau musin kemarau, jalan itu berubah menjadi berdebu. Jalan-jalan yang lain, hanyalah jalan setapak belaka.

Baru pada tahun 1963, jalan-jalan di Kampung Sekep dan Kampung Bawah di sebelahnya, diperbaiki Pemerintah Daerah. Jembatan yang melintasi saluran air di belakang rumah kami juga diperbaiki dengan bahan kayu. Namun jalan belum diaspal, hanya ditambahi tanah dan campuran batu kerikil merah yang dikeraskan dengan sebuah mesin giling. Saya dan anak-anak lain setiap hari menonton mesin giling yang nampak antik itu. Saya masih ingat mesin giling itu buatan Jerman tahun 1886 sebagaimana tertulis di bagian depannya. Mereknya Stombel. Mesin giling itu kepunyaan Dinas Pekerjaan Umum setempat. Apa yang menarik perhatian kami pada masin giling itu, ialah rodanya yang besar terbuat dari besi. Mesin itu digerakkan dengan kayu bakar untuk menghasilkan uap dan tenaga. Mungkin asalnya bahan bakar mesin giling itu adalah batubara. Tetapi karena batubara tidak ada di kampung kami, maka pegawai PU berinisiatif menggantinya dengan kayu bakar. Asap kayu bakar itu beterbangan kemana-mana. Kayunya tak henti-hentinya diisi agar api tetap menyala. Karena saking tuanya, mesin giling antik itu akhirnya mogok dipinggir jalan antara rumah Wak Darman dengan rumah Pak Sulaiman. Berkali-kali mesin itu diperbaiki namun tak kunjung sembuh. Akhirnya benda antik itu menjadi besi tua dan dibiarkan tergeletak di tepi jalan. Anak-anak sering menaiki benda antik itu sebagai ajang tempat bermain. Itulah sebabnya, jalan ke Kampung Sekep itu sering dinamakan Jalan Stombel.

Oktober 4, 2013 Posted by | Cakap Cakap | Tinggalkan komentar

KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL Prof. Dr. Tengku YUSRIL IHZA MAHENDRA (Bagian VI)

Gambar

Setelah saya sering berkelana di dalam hutan diumur 5-6 tahun, saya mulai tertarik dengan laut ketika memasuki usia tujuh tahun. Seperti telah saya singgung pada Bagian V, saya sesekali ikut pergi ke tepi pantai bersama kakak saya Yusfi. Tapi karena dia makin sibuk bersekolah di SMP yang jaraknya agak jauh dari rumah kami di Kampung Sekep, dia mulai jarang pergi ke pantai. Usman, tetangga saya, mengajak saya pergi ke pantai. Ayahnya, Muhammad, adalah seorang nelayan Bugis. Kakeknya, Baharun, juga nelayan. Saya mengikuti Usman peri ke pantai menunggu ayahnya pulang melaut. Biasanya kami pergi dari rumah sekitar pukul sepuluh pagi, setelah saya mengisi air keperluan di rumah, dan membantu ibu saya menyelesaikan pekerjaan di rumah.

Perjalanan dari Kampung Sekep ke Pantai Pengempangan kira-kira berjarak dua kilometer. Kami berjalan kaki tanpa alas kaki, menelusuri jalan setapak melawati Kampung Bakau. Di jalan kami sering bertemu serombongan biawak yang bermain di danau berair payau yang ditumbuhi banyak pohon Nipah. Di sisi kiri jalan menuju Kampung Bakau itu ada kulong (danau bekas tambang timah) berair asin, yang dinamai Kulong Wak Nutok. Nama itu diambil dari seorang yang berasal dari Jawa, namanya Noto, yang tinggal di tepi kulong itu. Dia memiliki perahu yang dilabuhkan di situ dengan sebuah jangkar. Kulong Wak Nutok juga banyak ikannya. Kadang-kadang kami mampir di kulong itu mencari timung dan simping, sejenis lokan air payau. Kampung Bakau yang kami lintasi, hanya dihuni tiga keluarga. Pertama keluarga Bajeri, yang pernah saya ceritakan di Bagian II sebagai pemain biola yang handal. Kedua, keluara Baharu. Beliau ini pegawai PU yang kerjanya sehari-hari memperbaiki jalan yang rusak. Ketiga, keluarga Salim Simin. Saya tak ingat apa pekerjaan Salim Simin itu. Namun beliau seorang pejuang, yang di zaman Revolusi ikut dalam berbagai pertempuran.

Saya mengenal semua penghuni Kampung Bakau yang hanya tiga keluarga itu. Anak-anak Baharu dan Salim Simin yang bernama Ee, Andot dan Patani adalah teman-teman saya juga. Mereka mengajari saya cara membuat perahu-perahuan dari kayu pohon waru yang diberi layar kain bekas untuk kami bermain. Saya sering juga ikut mereka berenang di kulong di belakang rumahnya ketika air laut pasang dan mengalir sampai ke sana. Agak bahaya juga mandi di situ, karena kami pernah melihat buaya sedang berenang di kejauhan. Anak Bajeri – beliau saudara sepupu ayah saya dari pihak ibu – semuanya sudah besar. Jadi tidak ada yang dapat dijadikan teman bermain. Ada dua anak Bajeri yang sudah dewasa, tetapi belum kawin. Anak laki-laki bernama Ahad, namun yang perempuan saya sudah lupa namanya. Anak yang perempuan itu cantik, kulitnya putih, umurnya kira-kira 19 tahun. Anak-anak menyebut gadis itu Putri Bakau. Ketika melewati Kampung Bakau, saya sering mendengar Bajeri meggesek biola, atau menabuh hadrah. Ketika itu beliau sudah tua. Namun hidupnya tetap bagai seniman.

Kampung Bakau nampak bagai sebuah pulau. Kampung itu dikelelingi air dan dihubungkan dengan jembatan terbuat dari pohon kelapa. Pohon kelapa di kampung itu banyak sekali. Banyak juga pohon cemara laut, pohon penaga dan pohon waru. Tidak jauh dari jembatan Kampung Bakau, ada sebuah rumah cukup besar. Pemilik rumah itu adalah Sadam. Belakangan diolok-olok orang sebagai Saddam Hussein, Presiden Irak yang amat tersohor namanya. Sadam memiliki kebun kelapa yang luas. Dia juga mempunyai beberapa perahu yang diparkir di tepi pantai dekat rumahnya. Tempat Sadam memarkir perahu itu, lama kelamaan disebut orang sebagai Pangkalan Sadam. Anak Sadam yang bernama Rahim, belakangan menjadi teman kami sekolah ketika SMP. Sadam adalah orang yang cukup ramah. Sebelum banyak anak-anak bersunat di rumah sakit, Sadam adalah tukang sunat tradisional. Anak-anak konon direndam Sadam sehari suntuk, sebelum disunat pakai pisau cukur. Seram juga mendengar Sadam menyunat anak-anak di zaman dahulu. Meskipun begitu, konon disunat Sadam tidaklah sakit, karena dia menyunat menggunakan jampi-jampi.

Dengan melintasi Kampung Bakau, maka tibalah kami di tepi pantai di Pangkalan Sadam itu. Dari sana kami menyusuri pantai menuju Pengempangan. Pantai Pengempangan ketika itu dikelola kakek saya Haji Zainal bin Haji Ahmad. Banyak pohon kelapa di pantai itu yang ditanam sejak ayah kakek saya Haji Ahmad masih hidup. Kakek saya mempunyai pondok kecil di situ yang beliau bangun bertengger di tebing batu di kaki Bukit Samak. Ada dua pondok tempat orang duduk-duduk dan tiduran di Pantai Pengempangan itu sambil menunggu nelayan pulang melaut. Tempat itu sekaligus digunakan untuk menimbang ikan, sebelum dibawa ke pasar untuk dijual. Ada juga warung kecil tempat orang berjualan penganan dan minuman. Di bangunan yang agak besar dibuatkan papan catur di lantai papan. Banyak orang main catur, nelayan, tengkulak ikan dan anak-anak. Pak Lurah Daeng Semaong, yang selalu memakai topi kontroluer orang Belanda, juga sering-sering berada di tempat itu. Kalau ada Daeng Semaong, semua orang Bugis di tepi pantai itu tunduk menghormat. Beliau sangat berwibawa dan disegani.

Bagi saya yang masih kecil, bermain di pantai itu sungguh menyenangkan. Sebelum nelayan datang melaut, kami mandi sambil berenang menuju bebatuan yang tidak terlalu jauh dari pantai. Saya pandai berenang tanpa ada yang mengajari, karena pandai dengan sendirinya setelah setiap hari mencebur ke laut. Kamipun biasa menyelam, tanpa memakai kaca mata selam, seperti yang digunakan nelayan Buton ketika mereka memanah ikan di sekitar karang di dalam air. Tempat yang sering kami jadikan ajang lomba renang adalah Batu Malang, yang berjarak sekitar 80 – 100 meter dari pantai. Kami tenang-tenang saja melintasi alur, walau arus terkadang deras untuk sampai ke batu itu. Di Batu Malang saya sering menyelam mengambil akar bahar yang bagus bentuknya. Akar bahar berwarna hitam dapat dijadikan gelang. Sering juga saya melihat penyu bersarang di karang-karang sekitar Batu Malang itu. Banyak juga ikan-ikan kecil. Pemandangan di bawah laut, dengan kedalaman kira-kira tiga-empat meter itu sungguh mengagumkan.

Oktober 4, 2013 Posted by | Cakap Cakap | Tinggalkan komentar

Bosan

Ini sebuah cerita ringan tentang kebosanan.
Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu : “Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, pak tua?”
Pak Tua : “Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan
perubahan,mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya
rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.”
Tamu : “Kenapa kita merasa bosan?”
Pak Tua : “Karena kita tidak pernah merasa puas  dan ikhlas dengan apa yang kita miliki.”
Tamu : “Bagaimana menghilangkan kebosanan?”
Pak Tua : “Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan
terbebas darinya.”
Tamu : “Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?”
Pak Tua: “Bertanyalah pada dirimu sendiri:  mengapa kamu tidak pernah bosan
makan nasi yang sama rasanya setiap hari?”
Tamu : “Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua.”
Pak Tua : “Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam
rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang.”
Tamu:  “Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?”
Pak Tua : “Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis
sambil duduk, cobalah menulis sambil berbaring. Kalau biasanya
membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau
meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan
tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya.” Lalu Tamu itu pun
pergi.

Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.
Tamu : “Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya
masih merasa bosan juga?”
Pak Tua : “Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan.”
Tamu : “Contohnya?”
Pak Tua : “Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu.”
Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.
Tamu : “Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu
senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya
senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah
merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah
saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?”
Sambil tersenyum Pak Tua berkata:  “Karena segala sesuatu sebenarnya berasal
dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu
yang berpikir tentang kebosanan.
Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria.
Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan
berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan.
Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan.
Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.”

Cerita di atas menggambarkan bahwa setiap kita berpotensi unuk mengalami suasana kebosanan. Suasana hati, fikiran dan mobilitas, sangat mempengaruhi kondisi ini.

Jangan biarkan kebosanan itu singgah berlama-lama pada diri anda. Beberapa tips berikut mungkin mampu mencairkan kebosanan itu:

Kenali kebosanan Anda
Seringkali kita mencampur-adukkan kebosanan dengan perasaan-perasaan lain,  seperti kecewa,
kesal pada orang lain, merasa tak berharga, dan lain  sebagainya. Langkah terutama dalam mengatasi kebosanan adalah mengenali  mengapa kita bosan. Bertanyalah pada diri sendiri dan cari tahu mengapa kita  bosan. Apakah kita bosan karena telah melakukan hal yang sama terus-menerus?  Atau anda bosan karena berselisih paham dengan orang lain sehingga anda kecewa, lantas anda tak bergairah dan bosan? Bosan hanya  akibat bukan sebab, karena itu carilah penyebabnya, lalu coba untuk  mengatasinya.


Bergeraklah, berkeringatlah!
Apa pun penyebab rasa bosan, anda dapat mengikis kemalasan atau perasaan kurang bergairah dengan cara tetaplah bergerak. Lakukan sesuatu yang membuat anda bergerak dan berkeringat. Lakukan sendiri, namun lebih baik lagi bila anda lakukan bersama pasangan atau teman-teman anda. Anda bisa bekerja fisik (misal: menguras bak mandi, membersihkan gudang, mengepel lantai,dll.), berolahraga dan bermain (misal: sepak bola, basket, tenis, dll.), atau melakukan apa saja yang membuat tubuh anda bergerak dan berkeringat. Meski kecut, berkeringat hingga basah kuyup membantu menyegarkan pikiran dan jiwa anda. Setelah itu anda akan temukan kegairah yang akan mengatasi kebosanan anda.

Beristirahatlah dan bergembira
Mungkin kebosanan anda disebabkan oleh kelelahan fisik dan pikiran. Untuk itu jangan merasa bersalah untuk mengambil waktu istirahat. Bila anda kurang tidur, maka cukupkan kebutuhan tidur anda. Namun jangan lantas anda mengisinya dengan bermalas-malasan, isilah waktu istirahat dengan kegiatan yang menumbuhkan kegembiraan. Mendekat ke alam (misal: berjalan-jalan di gunung, tidur di alam bebas, bersantai sambil menikmati ikan di kolam, dll.) atau bermain-main dengan anak-anak adalah cara beristirahat sekaligus bergembira.

Hayati apa yang anda lakukan
Sebenarnya jarang sekali kita bosan karena melakukan sesuatu yan
g sama berulang-ulang. Yang umum terjadi, kebosanan menyebabkan kita tidak menghayati apa yang sedang kita lakukan. Untuk mengikis kebosanan, coba hayati apa yang anda lakukan, nikmati setiap detil pekerjaan anda, perhatikan lebih sungguh-sungguh tugas anda. Di saat anda menghayatinya, anda bisa menemukan sesuatu yang baru yang mungkin terlewati. Menghayati berarti menyertakan hati dan pikiran pada pekerjaan anda. Bila anda tak mampu menghayati, anda perlu mencari sesuatu yang baru. Misal, bila anda memiliki banyak koleksi buku dan tak terlalu terrawat, cobalah menyampuli buku-buku anda. Temukan makna penghayatan di saat anda menyampuli setiap buku anda.


Ubah kebiasaan anda
Atasi rutinitas anda dengan melakukan sesuatu dengan cara berbeda. Misal, bila anda biasa datang ke kantor pada jam 8 pagi, maka cobalah untuk datang jam 6 pagi. Rasakan betapa berbedanya. Atau, bila anda bekerja di pabrik dan tak pernah bekerja pada shift malam, cobalah untuk bekerja pda shift malam. Ini menumbuhkan fleksibilitas/kelenturan diri anda, sekaligus untuk menemukan hal-hal yang baru. Bila anda selalu makan di kantin, cobalah untuk makan di dapur kantin, pasti ada beberapa rekan yang lebih memilih makan di dapur ketimbang di meja makan kantin. Lakukan dengan berbeda, mungkin hasilnya sama saja, namun anda akan mengalami sesuatu yang berbeda.

Cobalah melakukan sesuatu yang baru
Ini adalah tips umum yang banyak dianjurkan untuk mengatasi kebosanan. Ya, temukan sesuatu yang baru yang membangkitkan gairah anda. Ingat: yang membangkitkan gairah anda. Karena itu pikirkan dan pilihlah apa yang ingin anda lakukan dengan cermat. Lakukan sesuatu yang membuat anda bergerak, menciptakan sesuatu dari tangan anda, atau memelihara kehidupan. Misal: belajarlah membuat kandang merpati, pagar tanaman, menjahit kain perca, membuat origami, dll.

Lakukan kembali apa yang pernah anda lakukan dulu
Ingat-ingat apa yang yang pernah anda lakukan dulu, dan anda mendapatkan kegembiraan dari sana, tak ada salahnya anda melakukannya lagi. Misal, bila sewaktu remaja anda senang mendaki gunung, dan kini tak pernah anda lakukan, coba untuk mencari kesempatan mendaki gunung lagi. Bila anda pernah memainkan gitar, dan kini hampir lupa bagaimana caranya, pinjamlah gitar lalu pelajari kembali kesenangan anda itu. Siapa tahu ternyata anda masih lihai memainkannya.

Pererat dan perluas hubungan sosial anda
Ada orang mengaku bosan, padahal ia kesal pada seseorang. Dalam hal ini yang perlu diatasi adalah kekesalannya dengan memperbaiki hubungannya. Rekat kembali hubungan tersebut, kekesalan pun mereda, dan kebosanan akan teratasi. Namun, toh bila anda memang sedang bosan, coba hubungi teman-teman lama anda. Ini akan membangunkan gairah diri anda. Meski hanya sekedar bercakap-cakap, anda bisa menemukan sesuatu yang baru yang bisa anda kerjakan bersama-sama. Cobalah memperluas hubungan anda. Bila anda tak pernah melakukan ronda di lingkungan anda, cobalah ikut meronda (meski mungk
in hanya bersama petugas keamanan) namun rasakan betapa berbedanya perasaan itu.


April 29, 2010 Posted by | IYA PULAK | 3 Komentar

Tengkoe Mansoer Adil Mansoer

Tengkoe Mansoer Adil Mansoer1

Mengenal Tengkoe Mansoer Adil Mansoer sama dengan mengenal data sejarah. Bukan cuma karena ia menetap di Negeri Belanda, tapi Tengkoe Mansoer Adil Mansoer mempunyai kepedulian besar terhadap upaya pengumpulan data tertulis sejarah Indonesia yang banyak tercatat dan tersimpan di Belanda.

Bangsawan Melayu Sumatera Timur yang bermukim di Negeri Belanda ini, yang di masa mudanya gemar bermain sepak bola, volly serta catur, banyak mengkoleksi surat kabar lampau yang pernah diterbitkan di zaman Hindia Belanda serta buku-buku budaya dan sejarah, terutama soalan khazanah Melayu.

Musisi yang pernah tergabung dalam kumpulan band yang genre musik hawai, country, jazz, keroncong & beat ini pula, tetap mengikuti perkembangan Puak Melayu di Sumatera meski ia jauh dari kampung halaman. Ia bahkan sedang berupaya menulis sebuah buku tentang Kesultanan Asahan.

Tengkoe Mansoer Adil Mansoer lahir di Medan, 28 Mei 1948.  Putera ketiga dari Tengku Aswani bin Tengku Hafas dan Tengku Sariah binti Dr. T. Mansoer – Asahan. Kedua Atoknya merupakan tokoh penting di Sumatera Timur, Dr. T. Mansoer  adalah Wali Negara Sumatera Timur, penggagas lahirnya Universitas Sumatera Utara yang saat itu adalah Perguruan Tinggi Kedokteran;  sedangkan Tengku Hafas bin Tengku Ismail  adalah Kepala Departemen Dalam Negeri – Negara Sumatera Timur pada 1948. Ia menikah dengan Jolanda pada 10 September 1976, dikarniai satu putera dan empat puteri, dan saat ini ia telah memiliki dua orang cucu.

Tengkoe Mansoer Adil Mansoer menempuh pendidikan dasar berawal di  Sekolah Belanda Oranjeschool Medan. Namun saat naik kelas III, suasana politik antara Indonesia dan Negeri Belanda tampak tidak harmonis, sehingga sekolah Oranjeschool ditutup. Segala sesuatu yang berbau Belanda, baik bahasa atau juga buku-buku pelajaran berbahasa Belanda dilarang.

“Buku-buku  pendidikan bahasa Belanda terpaksa dibakar dan banyak guru-guru kami diharuskan berangkat meninggalkan Indonesia dalam 24 jam, hanya satu koper boleh dibawa; uang tak boleh diambil dari bank. Bahkan tak dapat mengucapkan selamat tinggal pada mereka yang dikenal dan dekat di hati mereka”, ujar Tengkoe Mansoer Adil Mansoer.

Setelah peristiwa penutupan sekolah tersebut, Tengkoe Mansoer Adil Mansoer kecil, dimasukkan ke Sekolah St. Joseph di kota Medan. Namun sistem pendidikan di sekolah ini mewajibkan seluruh murid untuk mengikuti misa di gereja. Karenanya, Tengkoe terpaksa dipindahkan lagi ke kelas IV di Perguruan Kristen Immanuel jalan Djokja – Medan, yang tak jauh dari rumah orangtuanya.

“Tetapi politik Soekarno belum membawa suasana damai juga. Revolusi kembali diteruskan. Indonesia lebih mencari hubungan dengan negara-negara komunis, seperti Uni Soviet – Rusia, China, Hungaria dan lain-lain.

Semua orang-orang Belanda yang masih bekerja di Indonesia harus pergi, akhirnya orang-orang  putih berangkat kecuali orang-orang komunis. Perebutan Irian Barat, Pemberontakan Kolonel Simbolon, PRRI/Permesta,. RMS, serta zaman permusuhan suku terhadap suku”, jelas Tengkoe Mansoer Adil Mansoer.

“Kita dihina dengan sebutan Belanda Tempe atau juga sebutan Feodal. Kelaparan terjadi di banyak pulau-pulau kecil dan besar. Gula hampir tak ada, beras sulit didapatkan”, jelas Tengkoe Mansoer Adil Mansoer lagi.

“Saya lalu masuk SMP, tahun 1960, Indoktrinasi di sekolah dilancarkan ala komunis. Saat upacara bendera pada hari senin, semua murid berbaju putih, berbaris di depan sekolah sambil mendengar pidato-pidato  tentang kaum imperialis dan kolonialis, tentang Irian Barat milik Indonesia. Hari sabtu berbaju putih lagi. Upacara penurunan bendera dan lagi-lagi pidato seperti tersebut”.

“Kalau sirene diperdengarkan, mobil-mobil  wajib berhenti di bawah pohon. Rumah-rumah harus gelap karena militer memerintahkan agar listrik dipadamkan. Halaman harus ditanami ubi, jagung dan sejenisnya. Suasana sangat tertekan seperti atmosfir zaman perang”, kenang Tengkoe Mansoer Adil Mansoer.

“Setiap hari jumahat kami berziarah ke makam Atok Mansoer di halaman samping Mesjid Raya. Karena Bunda masih terbayang suasana kekejaman Revolusi Sosial. Bunda teramat  takut akan terulang lagi. Akhirnya, dimintalah  petuah kehadapan Sultan Asahan – Tuanku Saibun. Serta diminta nasihat dan pertolongan kawan-kawan, seperti Hamzah – seorang hakim, Pak Suwarno – orang imigrasi, dan lain-lainnya”.

“Kami disarankan berlibur ke Malaysia. Namun saat di lapangan terbang, kami tak boleh berangkat. Untunglah tetangga kami, Letkol Zain Hamid, pada waktu itu ia pembesar militer di Medan dan berada di Ambon untuk menyiapkan perang Irian Barat. Untunglah ia memberitahukan wakilnya agar kami diusahakan untuk berangkat”.

“Setelah wakil dari Letkol Zain Hamid mengupayakan, kami langsung masuk ke kapal terbang tujuan Singapura. Disana kami  dihalangi lagi, alasannya berpaspor Indonesia tak mendapat izin meneruskan perjalanan ke Malaysia, sebab Soekarno hendak mengganyang Malaya”.

“Bunda begitu bingung, takut disuruh pulang kembali. Bunda membuka tasnya, difikir bapak-bapak yang menghalangi tersebut Bunda ingin memberinya uang, biasalah di Indonesia.  Tapi Bunda mengambil paspor yang lain di dalam tas, Bunda punya juga passport Belanda. Maka kami pun dengan penuh susah payah akhirnya dapat berangkat”, demikian Tengkoe Mansoer Adil Mansoer mengenang masa-masa pahit itu.

Dari Malaysia akhirnya mereka menuju Belanda. Disana Tengkoe melanjutkan pendidikan di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) setingkat SMP, kemudian HBS (Hogere Burger School atau Hoogere Burgerschool) setingkat SMA. Karena sudah berumur 22 tahun saat menyelesaikan sekolah, ia masuk wajib militer, karena sudah mendapat kewarganegaraan Belanda.

Ia ditawarkan untuk menjadi Opsir cadangan, Namun ia menolak, dengan pertimbangan karena 24 bulan dalam dinas, lalu menjadi Opsir rendah ditambah 18 bulan, telah menyita usianya, ditambah lagi ia lebih memilih bidang lain dalam meniti karier.

Tengkoe Mansoer Adil Mansoer2

Sesudah 37 tahun bekerja pada perusahan industri, sejak tahun 2013 ia pensiun. Saat ini selain aktif dalam pengumpulan data sejarah dan budaya Melayu, Lelaki hitam manis yang fasih berbahasa Melayu nan santun bertutur ini, bergabung di dalam perkumpulan Indonesia di Kota Alkmaar, di Provinsi Noord Holland. *(TM Muhar Omtatok)

April 10, 2010 Posted by | Cakap Cakap | 3 Komentar

TIDUR

image

Tidur didefinisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar yang masih dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik atau dengan rangsang lainnya (Guyton & Hall, 1997). Tidur sebagai proses fisiologis yang bersiklus bergantian dengan periode yang lebih lama dari keterjagaan. Tidur merupakan kondisi tiak sadar dimana induvidu dapat dibangunkan oleh stimulasi atau sensori yang sesuai (Guyton dalam Aziz Alimul H) atau juga dapat dikatakan sebagai keadaan tidak sadarkan diri yang relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan, tetapi lebih merupakan suatu urutan siklus yang berulang, dengan ciri adanya aktifitas yang minim, memiliki kesadaran yang bervariasi terhadap perubahan fisiologis dan terjadi penurunan respon terhadap rangsangan dari luar.

tidur

Para peneliti mengungkap hal ikhwal tidur:

1. Tidur yang berkualitas di malam hari merupakan upaya optimalisasi dalam detoksifikasi untuk menetralisir toksin yang mengontaminasi tubuh.

Detoksifikasi tubuh terjadi terutama pada hati, tercapai optimal saat tidur. Mekanisme tersebut berkaitan erat dengan diproduksinya antioksidan sebagai penetral toksin. Pada tidur yang berkualitas, detoksifikasi hati dapat berjalan optimal, khususnya dalam pembentukan asam amino glutathione sebagai antioksidan yang menetralisasi stres oksidatif dan radikal bebas.

2. Tidur siang saat bekerja dapat mengurangi risiko terkena penyakit jantung yang membahayakan bahkan mematikan.

Data menunjukkan bahwa manfaat tidur siang lebih banyak dirasakan oleh kaum pria dalam sampel terbatas daripada kaum wanita. Studi yang dianggap paling fenomenal mengenai problematika tidur ini, memfokuskan penelitian pada aspek kesehatan yang ditimbulkan oleh tidur siang.

Penelitian ini melibatkan 23.681 penduduk usia dewasa di Yunani dan memakan waktu enam tahun seperti dilansir oleh Associated Press (AP). Studi ini menjelaskan bahwa mereka yang menghabiskan waktu kurang lebih setengah jam untuk tidur siang di kantor, tiga kali dalam seminggu, risiko kematian yang disebabkan oleh timbulnya gejala penyakit jantung berkurang rata-rata 37%, dibandingkan dengan mereka yang tidak tidur siang di kantor.

Studi ilmiah ini menemukan teori baru bahwa tidur siang memiliki pengaruh yang penting dalam meningkatkan produktivitas dan mengurangi tingkat kematian.

Para peneliti berpendapat bahwa tidur siang di kantor sangat bermanfaat bagi jantung, karena dapat mengurangi stres dan detak jantung yang berlebihan, sehingga membuat kerja terhambat.

Dalam kesimpulan lain dinyatakan bahwa, kaum perempuan juga merasakan manfaat yang besar dari tidur siang di kantor. Keterangan ini menyebutkan bahwa laki-laki yang meninggal dunia akibat stres menghadapi pekerjaan lebih banyak daripada perempuan, sebagaimana penjelasan Dr. Dimitrios Trichopoulos, seorang penanggungjawab studi dan penelitian pada Harvard School of Public Health dan University of Athens Medical School.

Studi ini menegaskan bahwa selama masa penelitian berlangsung relawan perempuan yang terlibat dalam penelitian ini dan meninggal berjumlah 48 orang, enam diantaranya adalah wanita karir, dibandingkan dengan jumlah lelaki yang meninggal dunia sebanyak 85 orang, 27 diantaranya adalah pria bekerja.

3. Dr. Zafir al-Attar berkata “Seseorang yang tidur dengan cara telungkup di atas perutnya setelah suatu periode tertentu akan mengalami kesulitan bernafas karena seluruh berat badannya akan menekan ke arah dada yang menghalangi dada untuk merenggang dan berkonstraksi saat bernafas. Hal ini juga dapat menyebabkan terjadinya kekurangan asupan oksigen yang dapat mempengaruhi kinerja jantung dan otak.”

Peneliti dari Australia telah menyatakan bahwa terjadi peningkatan kematian pada anak-anak sebesar tiga kali lipat saat mereka tidur telungkup atau tengkurap dibandingkan jika mereka tidur dengan posisi menyamping.

Sedangkan Majalah “Times” mempublikasikan hasil sebuah penelitian di Inggris yang menunjukan peningkatan tingkat kematian mendadak pada anak-anak yang tidur telungkup.

4. Dr. Zafir al-Attar menjelaskan bahwa saat seseorang tidur dengan cara terlentang, maka hal ini akan menyebabkan orang tersebut bernafas melalui mulutnya. Hal ini disebabkan karena pada saat kita tidur terlentang maka mulut kita akan terbuka, dikarenakan meregangnya rahang bawah.

Manusia harusnya bernafas melalui hidung, bukan mulut. Hal ini dikarenakan pada hidung terdapat bulu-bulu halus dan lendir yang dapat menyaring kotoran yang ikut terhisap bersama udara yang kita hirup. Bernafas melalui mulut merupakan salah satu penyebab seseorang rawan terkena flu. Selain itu bernafas lewat mulut akan menyebabkan keringnya rongga mulut sehingga dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada gusi.

Tidur telentang sebenarnya tidak memberikan manfaat bagi jantung. Bahkan pada posisi telentang, jantung menjadi lebih banyak mengeluarkan energi untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Maka jika dalam satu malam kita tidur dengan posisi telentang, jantung tidak akan mendapatkan kesempatan untuk beristrahat.

5. Posisi tidur miring ke kiri akan membuat jantung bekerja lebih keras lagi. Karena darah akan dipompa dari bilik jantung sebelah kiri ke Aorta yang posisinya lebih tinggi 10 derajat, sehingga aliran darah pun tidak lagi mengikuti hukum gravitasi dan hanya bisa mencapai ke 45% bagian tubuh saja. Ditambah lagi dengan posisi Aorta yang menjadi bengkok setelah terpisah dengan jantung. Oleh sebab itu, posisi tidur miring ke kiri bukanlah cara yang baik dan memudahkan kerja jantung mengalirkan darah ke bagian kanan kepala dan seluruh tubuh.

6. Lebih Baik Tidur Menyamping Ke Kanan. Inilah posisi tidur terbaik dengan posisi miring ke kanan, dapat membantu melancarkan aliran darah dari bilik jantung sebelah kiri yang posisinya menjadi lebih tinggi ke seluruh tubuh kecuali pembuluh Aorta. Dengan posisi tidur seperti ini, maka seluruh anggota tubuh selain tangan kiri akan berada sejajar atau di bawah jantung. Sehingga darahpun akan dengan mudah mengalir ke seluruh bagian tubuh sesuai dengan hukum gravitasi. Dan posisi tubuh seperti inilah yang baik untuk jantung.

7. Lebih baik tidur tanpa penerangan lampu.

Seorang ahli biologi, Joan Roberts, merupakan orang pertama yang menemukan hubungan antara lampu dan kesehatan. Ia menemukan korelasi tersebut dalam penelitiannya pada hewan percobaan yang diberikan perlakuan dengan cara menyalakan lampu buatan sepanjang malam.

Setelah diamati beberapa lama, maka Roberts melakukan pengukuran kadar hormon melatonin di dalam tubuh hewan tersebut dan menemukan fakta bahwa jumlahnya makin berkurang disertai penurunan daya tahan tubuhnya terhadap penyakit.

Maka Roberts pun berkesimpulan bahwa cahaya lampu (termasuk pancaran dari layar televisi) dapat menyebabkan penurunan kadar hormon melatonin di dalam tubuh yang akan mempengaruhi penurunan daya tahan tubuh terhadap penyakit dan mengakibatkan tubuh menjadi lemah.

Beberapa abad kemudian, para ilmuwan di berbagai belahan dunia pun menyelidiki tentang pentingnya tidur di malam hari dalam keadaan lampu dimatikan. Hasil penelitian mereka ternyata memperkuat hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Joan Roberts. Salah satunya adalah hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cancer Genetics and Cytogenetics menyatakan bahwa menyalakan cahaya buatan pada malam hari ketika tidur akan memiliki dampak pada jam biologis tubuh dan dapat menjadi pemicu ekspresi berlebihan dari sel-sel yang dikaitkan dengan pembentukan sel kanker.

Penelitian terbaru yang disajikan pada pertemuan tahunan Society for Neuroscience, di San Diego, Rabu 17/11/2010 juga menjelaskan tentang korelasi antara cahaya lampu dan tingkat depresi. Dalam jurnalnya penelitian itu menyimpulkan ternyata pekerja shift malam dan orang lain yang selalu terkena cahaya di malam hari akan meningkatkan risiko gangguan mood atau depresi.

Penemua Tracy Bedrosian, seorang mahasiswa doktor dalam ilmu saraf di Ohio State University, yang melakukan penelitian terhadap tupai, juga menjelasakan bahwa perubahan otak pada tupai timbul dari fluktuasi dalam produksi hormon melatonin. Melatonin memberi sinyal ke tubuh bahwa sedang malam hari, tapi cahaya di malam hari menghambat produksi hormone melatonin.

“Hormon ini telah terbukti memiliki beberapa efek antidepresan, dan penurunan melatonin dapat memacu gejala depresi”, ujar Bedrosian.

tidur

April 7, 2010 Posted by | IYA PULAK | 3 Komentar